Sunday, April 9, 2017

TM Lomba Sungguh Greget

Sunday, April 09, 2017
Hallo selamat pagi..

Pagi yang cerah ya, secerah kabar bahagia itu datang bersama angin pagi yang membawa asa. Ditambah lagi hari ini libur, kebahagiaan yang hakiki. Dan telah diriwayatkan dalam kisah ini, kemarin adalah hari yang luar biasa. Prosesnya greget, bolak-baliknya greget, persiapannya greget, pengalamannya juga greget. Alhamdulillah hasilnya juga InsyaAllah greget.

Dear orang yang tersayang (orang tua), temen-temen, mas, mbak, kakak, adik, makasih ya atas supportnya. Luar biasa, entah saya mau bilang apa. Prosesnya mantap jiwa kalau orang bilang. :D

Bismillah, mau nulis sepenggal cerita kemarin. Cerita yang menambah perspektif baru tentang hal yang ingin diperjuangkan. Tentang deep motivation, tentang hasrat untuk mencapai sebuah pencapaian, tentang rasa, dan tentang manajeman berfikir.

Beberapa hari lalu, waktu saya mendapat poster lomba yang saya ikuti kemarin. Saya merasa tertarik untuk mencobanya, walaupun niat sempat surut waktu mau bayar pendaftaran hehe (makhlum ya anak kos). Tapi akhirnya disela-sela waktu terkhir, saya mendaftarkan diri menjadi peserta lomba. Transfer lah saya di hari 'terakhir pendaftaran', which is hari pendaftaran udah diperpanjang sebelumnya. Tapi tak sia-sia dan Alhamdulillah dapat juara..... 1st winner. :)

Banyak cerita dibalik itu semua, mulai dari kereta, tiket abis, dosen pendamping, bus, gojek, Stasiun Purwosari, saling tunggu, kantin, sampai si abang dari Bandung. Paket lengkap ya. Ohya, bdw ikutan lomba apa sih sebenernya? Nama event nya itu Indonesian Medical Record Competition yang diselenggarakan oleh Apikes Citra Medika Surakarta, dimana terbagi menjadi tiga kategori yaitu Statistik Rumah Sakit, Pemrograman Rekam Medis, dan yang terakhir Manajemen Unit Kerja. Yang terakhir ini nih yang saya coba perjuangkan *ehh. Iya, benar memang adanya demikian. Kalau Statistik Rumah Sakit, rasa-rasanya saya belum dulu karena ngga terlalu eksak-able, malah akhir-akhir ini lebih suka soshum. Kalau pemrograman, bisa-bisa coding gatot, mungkin karena potensi di pemrograman masih timbul tenggelam ya. Nah, kalau Manajemen Unit Kerja ini lah yang sampai saat ini menjadi passion. Lebih suka manajemen, lebih suka menganalisis permasalahan lalu mencari solusi, konkrit, dan semoga solutif. Apa lagi kalau manajemen dikolaborasikan dengan leadership, pasti akan menciptakan suatu yang luar biasa.

Padahal ini belum masuk inti cerita, tapi udah panjang bener ya. Jarang-jarang prolognya sepanjang ini. Nah, karena prosesnya berhari-hari jadi saya coba tulis per part. And those are really memorable moments for me, thank you so much for everyone who involved in my journey. 


Sabtu, 25 Maret 2017

Ini adalah hari dimana saya memulai Technical Meeting, belum terpikiran bakal sama siapa ke Surakarta, sampai pada akhirnya ada temen yang nawarin buat nemenin. Awalnya ngga ada niatan buat ngajak siapa pun, kepikiran aja kalau waktu mereka bakal ngga produktif cuma buat nemenin TM doang hehe. Ehh ternyata doi nawarin diri, Alhamdulillah rejeki nomplok. Doi ini namanya Dyan, anak yang kalo selfie bilang 'aduh kayak ibu-ibu ya', padahal kan mother characteristic ya a.k.a keibuan :D

Rencana awal ingin naik kereta pukul 7.15 (biar so sweet) tapi ternyata kehabisan tiket. So, dengan berat hati kami menuju Terminal Giwangan dan akhirnya naik bus. Ala-ala anak muda, kami berdua ngobrol banyak hal mulai dari kisah merah jambunya doi, soal kampus, persiapan lomba, dan hal remeh temeh ngga penting lainnya.  Cukup sekitar satu jam lebih beberapa menit, kami sampai di Surakarta. Turun di depan Rumah Sakit Panti Waluyo dan naik gojek sampai Apikes Citra Medika. Sampai sana sekitar pukul 08.30, sedangkan TM terjadwal pukul 10.00. Jadi kami memutuskan untuk sarapan pagi dulu di kantin. Hal yang paling saya ingat, saya berasa orang asing waktu itu. Bukan karena apa, tapi setiap mata memandang dan saya berasa salah kostum (read: kaya anak main). Semua mahasiswa berseragam rapih, berjilbab dengan warna yang sama dan memakai hair net bagi yang tak berjilbab. Meskipun awkward moment, kami pun tetap makan dengan tenang dan seolah tak terjadi apa-apa. Akhirnya perut pun kenyang.

Kali ini ngobrol cantik "Eh Des, gimana kalo nanti aku ngga boleh masuk?". "Halah udah, katanya bebas kok, kamu jadi pendamping aku aja" jawabku. Dan ternyata doi beneran ngisi presensi di daftar dosen pendamping. Itulah sedikit obrolan singkat yang 'kurang penting'. Saat TM pun kami kasak-kusuk ngga jelas (ngebahas soal dirinya yang jadi dosen pendampung dadakan), bismillah tapi kondusif kok. TM berjalan lancar dan kami sempat terlibat dalam obrolan hangat dengan dosen pendamping asal Bandung, ini masih abang-abang (soalnya masih muda). Bang Tio namanya, easy going. Setidaknya kali ini obrolannya sedikit berbobot dengan topik bahasan yang bermutu terkait jurusan, penelitian, dosen, dan beberapa bahasan lainnya.

Terima kasih di, sudah menemaniku sejauh ini (ciye terhura). Waktu TM sama sekali ngga kepikiran buat ngajak dosen pendamping. You know lah kepadatan jadwal dosen, apa lagi TM nya hari Sabtu, ngga enak hati buat ngajak beliau. Tapi waktu itu juga, buat hari H-nya saya coba menghubungi Ibu Sav yang udah jadi teman diskusi waktu persiapan lomba dan membahas beberapa materi tentang Manajemen Unit Kerja. Beliau udah exited banget buat ngedampingin. Tapi, lagi-lagi memang ditakdirkan buat mandiri. Beliau ngga bisa karena surat tugas dari kampus ngga bisa mendadak. Sebenernya saya mau cerita lebih banyak soal beliau, mengenai hubungan kami. :D Tapi nanti saja, dikhawatirkan terlalu dramatis hehe.

Setelah TM selesai, saya bersama Dyan memutuskan langsung pulang (niatnya mau jalan-jalan tapi susah di transportasi). Dan anehnya kami pulangnya naik kereta, padahal awal naik bus, terus motorku gimana di parkiran Terminal Giwangan? (ini ada cerita tersendiri). Kami kembali ke Jogja naik prameks (Prambanan Ekspres) dengan tiket seharga 8K (wow murah sekali), ya begitulah. Kurang lebih 1 jam kami berdiri karena semua kursi penuh, luamayan pegeel tapi greget. Akhirnya sampailah di Stasiun Tugu, lalu jalan ke Maliobor buat cari Trans Jogja dan sialnya halte di Jalan Malioboro tidak beroperasi karena ada karnaval. Kali ini ngga terlalu sedih, karena kami bisa liat karnaval tanpa sengaja (jarang-jarang), sambil bikin snapgram ala-ala anak keinian. Tapi niatnya buat promosi budaya nih hehe. Kali-kali aja temen nun jauh disana bisa melancong kemari.

Di lokasi karnaval, ramainya Subhanallah. Lalu kami menuju halte yang mungkin beroperasi waktu itu yaitu dekat Taman Pintar. Kami masuk dan langsung bayar. Tapi lagi-lagi kami ngga bisa, ada pemberitahuan kalau akan beroperasi kembali sekitar pukul 18.00 (OMG, harus nunggu satu jam). Yaah, akhirnya kami naik gojek menuju Terminal Giwangan. Sungguh perjalanan yang kurang efektif ya. Seharian muter-muter, sampe kepikiran gimana persiapan buat lomba besoknya, alias belum belajar beberapa materi dan udah capek banget rasanya seharian. Tapi keseruan muter-muter ini yang bikin greget, lol nya luar biasa. Selagi muda tak apa ya melewati ketidakjelasan ini :D
Selalu ingat, hasil yang besar perlu perjuangan yang besar juga guys. :)

To be continue....


Tulisan ini ditulis pertama kali tanggal 28 Maret '17.
Dan baru melalui proses editing sekarang :D
Ykt 09-04-2017, 11:27 PM

Friday, March 31, 2017

Learn Creative Writing #2

Friday, March 31, 2017
Hallo hay..

Sepertinya sudah lama sekali, sejak saya menuliskan to be continue di tulisan saya sebelum ini. Maafkan, karena ada beberapa agenda jadi baru sempat dituliskan sekarang. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk berbagai cerita, barangkali akan sedikit memotivasi terutama minimalnya bagi diri saya sendiri.

Sebelum terlalu usang, saya mulai saja :)
Ada apa sih di hari kedua workship creative writing? Ada banyak hal yang saya pelajari. Saya dan teman-teman yang lain lebih banyak praktik dari pada teori. Selain itu juga menonton film tentang Jepang dan menyanyi. Semua itu sebagai langkah awal untuk memantik ide dalam menulis. Kami lebih banyak asik-asikan, yey!

Di tengah workshop pun saya bertemu dengan seorang dosen yang sedang menempuh pendidikan S3. Luar biasa semangatnya dalam belajar menulis, kata beliau motivasinya adalah untuk menulis karya ilmiah di S3-nya. Kata beliau, kemapuan menulis itu dibutuhkan dimana-mana (dan ini betul sekali). Jauh dari Makasar, beliau datang ke Yogyakarta karena mengantar mahasiswanya untuk pelatihan. Kemudian bertemu dr.Dito (katanya teman lama) dan sekalian mengikuti workshop-nya. Wah, asal Makasar? Semoga nanti bisa jumpa lagi ya Pak, waktu saya PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) di Makasar tahun ini. Biarlah, setiap waktu adalah doa. Semoga diijabah oleh Allah. Aamiin. :*

Hari ke-2 saya menulis tentang Jepang dengan judul "Create Your Inspiration". Tulisan ini menceritakan bagaimana kita bisa mendapat inspirasi. Meskipun saya masih anak bawang dan masih belajar juga cara mendapat inspirasi, saya mencoba menulis semampunya. Satu kertas HVS pun saya tulisi dengan hal yang berkaitan dengan inpirasi (sayangnya tulisan itu dibawa mas Dito). Tanpa disangka ternyata tulisan saya mendapat predikat terbaik ke-3, semoga mas Dito ngga salah menilai ya :D

Acara ini memang pure belajar asik, no pressure. Mungkin buat anak pers kadang ngrasain dikejar deadline yang harus selesai tanggal sekian, siap bekerja dibawah tekanan, tapi tak apa memang gregetnya disitu. Mantaap :D

Bicara soal tulisan, ada beberapa jenis tulisan yaitu salah satunya Genius Writing yang termasuk dalam tingkatan tertinggi. Mau tahu siapa tokoh Genius Writing? Jawabannya Ir. Soekarno, seorang lulusan Teknik Sipil tapi mampu menulis beberapa tulisan yang kompleks di luar disiplin ilmu yang pelajari. Baik tentang politik, hukung, sosial, dan lain sebagainya.

Untuk mencapai satu titik itu tentu bukanlah hal yang mudah. Perlu ide (gagasan) dan inspirasi (ilham). Manfaatkan otak kanan untuk menemukan the world of ide, begitu kata mas Dito. Pemicu ide sebagai bahan tulisan pun banyak macamnya, dengan membaca, bersilaturahmi, berdoa, mengalami suatu peristiwa, kenangan, atau pun setelah mengikuti kegiatan sosial. Semua itu bisa menjadi bahan untuk menulis. Pun kalau ingin menuliskan kisah perjalanan hidup yang bermakna, inpiratif, hebat, buatlah hidup kita tidak biasa-biasa saja ya, supaya bisa menuliskan kisah yang bisa diambil hikmahnya. Tentu saja definisi kesemuanya itu akan berbeda pada setiap orang. Take your own ways. ;)

Ketika ide muncul mendadak ikatlah dengan pena, -Mas Dito. Ide cenderung muncul ketika rileks, jadi jangan terlalu sepaneng. Lebih mudahnya buat mind map atau kerangka karangan sebelum menulis sebagai acuan dalam menulis.

Hal yang saya sukai di workshop ini, para alumni Creative Writing membuat projek berkelanjutan yaitu membuat buku. Kami memutuskan membuat sebuah buku antologi. Pada awalnya kami kebingunan membuat topik dan jenis tulisan apa yang akan dibuat. Jadi para alumni dibebaskan menulis apa saja, yang nantinya di tahap akhir akan di-review oleh mas Dito sebagai editor buku. I'm so exited. Bahkan rencana untuk konferensi pers untuk launcing buku sudah direncanakan dan akan bekerja sama dengan penerbit yang menjadi sponsor acara ini. Kereen. Semoga ini bisa terelaisasikan dan saya bisa menulis beberapa tulisan. Semoga ada waktu lebih untuk menulis tulisan yang oke:')

Alhamdulillah, kesempatan yang luar biasa bisa berada dan berjumpa dengan mereka. Terima kasih banyak buat temen saya yang sudah nyaranin buat ikut workshop ini. Thanks a lot.

Miss you

Foto bersama Mba Dian, Ibu Rina, dan Mamal

Makasih Mas Dito :D

Yogyakarta, 31 Maret 2017
01.47 AM

Tuesday, March 14, 2017

Learn Creative Writing

Tuesday, March 14, 2017
Creative? Memiliki pemikiran yang kreatif merupakan modal dalam menulis. Orang yang malas berfikir cenderung kurang kreatif (pengalaman dulu-dulu :D). Selain kreatif juga penting adanya inspirasi, karena inspirasi akan menjadikan ruh pada tulisan yang ditulis.

Kali ini saya bermaksud untuk berbagi tentang apa yang saya dapat waktu workshop creative writing selama dua hari kemarin (semoga berfaedah). Kalau kata orang, kita akan menerima apa yang kita beri. So, saya akan mencoba memberi apa yang saya dapat. Ini saya share sedikit ya, sebenarnya sebegitu banyak yang saya dapat tapi sungguh sangat terbatas jika saya tulisakan semuanya disini (ketemu aja yuk hehe).

Day #1 
Sabtu, 11 Maret 2017

First impression waktu sampai di lokasi, saya terkagum-kagum dengan desain interior yang super ketje. Ini adalah Rumah Kreatif Jogja, sesuai namanya di sini juga banyak sekali produk-produk yang sangat kreatif. Tempatnya nyaman dan pastinya cocok sekali buat anak muda macam saya ini (betah banget). Rumah Kreatif Jogja ini merupakan coworking space dan berlokasi di Jalan Sagan Timur Nomor 123. Rumah Kreatif Jogja berada dibawah naungan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dengan supervisi dari Bank Rakyat Indonesia. Saya juga sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan RKJ, yang nantinya bisa jadi teman diskusi terkait eksekusi PKM-K dan PKM-M didanai Dikti (Alhamdulillah, I really found this chance by pure serendipity). Banyak sekali cerita tentang Rumah Kreatif Jogja, tapi kita lanjut saja ke tema utama ya supaya tidak out of topic. :)

Pada sesi pertama workshop, seperti biasa dibuka oleh MC dan adanya sambutan. Sambutan disampaikan oleh Mas Ardityo Hendi Prastowo, beliau adalah Direktur Utama Learning Indonesia, pengaggas workshop kali ini. Beliau alumni UGM juga lho dan sedang otw S3. Setelah sambutan langsung pada inti acara, yaitu penyampaian materi oleh dr. Dito Anugroho. Kok dokter? Jangan salah, mas yang satu ini sudah menggeluti dunia kepenulisan cukup lama dan berhasil menulis 18 buku. Dan katanya akan lahir buku yang ke-19. Tak hanya itu, dokter yang lebih akrab disapa Mas Dito ini juga dokter digital, konsultan kesehatan di detik.com dan CEO Sahabat Literasi Indonesia. Ohya, Mas Dito juga sedang menempuh pendidikan di S2 Biomedical Scinces Fakultas Kedokteran UGM.

Sebelum memulai penyampaian materi, peserta dipersilakan menstimulus gelombang beta supaya rileks (wah ini saya kurang paham). Intinya selama workshop peserta akan  berseang-senang, yey! Materi awal lebih ke arah dasar-dasar menulis, motivasi kenapa harus menulis, dan spiritual writing (free style writing). Di sela-sela penyampaian materi juga diputarkan video menarik yang membawa pesan moral terkait kepenulisan. 

Ketika ada yang bertanya 'kenapa menulis' mungkin jawabannya akan berbeda-beda, karena setiap orang mempunyai motivasi masing-maisng (kalo saya lebih pada kepuasan batin hehe). Kalau yang satu ini alasan menulis versi mas Dito: mencari ridho Allah (MasyaAllah); hobi dan kepuasan batin (saya masuk yang satu ini); amal salih yang pahalanya mengalir; mewariskan prasasti kehidupan; abadi dan dikenang sejarah; menyenagkan dan membahagiakan. 

Kalau motivasi saya sendiri simple, seperti yang sudah saya sebutkan di awal yaitu mendapat kepuasan batin. Selain itu saya juga bisa meriwayatkan hal-hal yang menurut saya perlu untuk dikenang dan bisa dibaca beberapa tahun lagi. Intinya sih jangan sampai hal-hal besar dalam hidupmu terlewatkan begitu saja, mungkin ada hikmah yang bisa diambil oleh orang lain, atau barangkali bisa menginspirasi orang lain hehe. Jadi ingat kutipan Eyang "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah" - Pramoedya Ananta Toer. Apa pun motivasinya, semoga tulisannya bermanfaat, apa lagi kalo sudah bisa menghasilkan uang seperi penulis legendaris kita JK Rowling (kereen). Kata Mas Dito, yang penting jangan menulis untuk merendahkan orang lain.

Dimana letak menulis ideal? Jawabnnya dimana saja. Karena setiap tempat memiliki inspirasi sendiri untuk menciptakan tulisan. Setiap detik kehidupan pun bisa menjadi tulisan. "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat adalah tafsirannya", Pramudya Ananta Toer. Lagi-lagi saya mengambil kutipan Pramudya, mungkin ini salah satu kutipan yang paling saya suka. Dan beberapa waktu lalu kalau masih ingat, saya menuliskan kejadian atau peristiwa yang saya coba ambil tafsiran darinya dan mencoba memahami hikmahnya (kayak anak filsafat aja ya :D). Agar inspirasi dan ide tidak mudah hilang, pesan dari Mas Dito ada baiknya kita mempunyai bank idea berupa note kecil yang mudah dibawa keman saja. Saat ide menulis bermunculan bisa langsung dituliskan, karena ide akan sangat rawan hilang ketika hanya diingat :D

Kalau bingung mau menulis apa, maka “Mulailah menulis apa saja yang kamu tahu. Menulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri” - JK Rowling. Dan perlu diingat juga bahwa pondasi dalam kepenulisan adalah membaca dan menulis. Hal pendukung lainnya ada di ilmu pengetahuan, pengalaman, riset, kehidupan, dan semesta. Rasa ingin tahu juga sangat penting dalam hal menulis. Kurang lebih seperti itu pemaparan dari Mas Dito.

Dalam sesi tanya jawab, saya menanyakan beberapa hal yang memang terjadi dalam diri saya. 
  1. Terkadang saya ingin menulis suatu hal yang memberikan faedah bagi orang lain, tapi bagaimana caranya supaya tidak terkesan menggurui.
  2. Mas, kadang saya malu mempublish tulisan ke orang lain (biasanya nulis-nulis aja dan dibaca sendiri :D). Biasanya alasan mendasar mungkin tulisan saya terkesan lebay (pikirku). Mungkin yang sedang membaca tulisan ini, apa tulisan saya lebay, awkward, berfaedah atau biasa aja?  (bisa kirim masukannya dengan menekan tombol "contact me" di tampilan web, kalau buka blog ini lewat PC bukan HP).
Jawaban ala Mas Dito:
  1. Untuk mengatasi menggurui coba baca referensi dengan beberapa sitasi yang sudah baku. Jangan gunakan kalimat yang terlalu kaku. Bisa juga didahului dengan studi kasus lalu disampaikan hikmahnya.
  2. Jangan malu, coba kirimkan ke media. Untuk tulisan yang sudah bagus dikirm saja ke media, jangan di post di blog dulu. Karena terkadang idenya bisa dipakai orang lain, setelah dimuat di media bisa di post di blog (tapi dok, kebanyakan tulisan saya curhatan ala-ala -,-).

Kurang lebih seperti itu jawaban dari Mas Dito. Agaknya ini menjadi awal dari hati yang paling dalam, yaitu muncul semburat cahaya yang mengilhami diri ini untuk menulis buku. (Aamiin ya Allah semoga bukan sekedar wacana :D). Untuk meningkatkan kemampuan menulis bisa dengan bergabung di forum kepenulisan, begitu pesan dari Mas Dito. Saya juga menyadari ini sangat efektif sebagai teman diskusi dan pemantik semangat untuk menulis.

Bagi yang ingin menjadi kontributor tulisan atau ingin menulis di surat kabar, berikuti ini ada tips dari Mas Dito. Misalkan kita akan menulis opini di salah satu surat kabar, kita dianjurkan mengamati dan membaca detailnya serta jenis tulisan yang dimuat disana. Minimal bisa tahu pola tulisannya seperti apa.  Hal ini dilakuakn terus selama 10 kali lebih di surat kabar yang ingin ditembus. Bagi yang ingin menulis tentang fiksi seperti novel, maka perlu nafas yang panjang dan setiap bab sudah mempunya draft terlebih dahulu. Serta penguatan masing-masing karakter supaya tetap konsisten.

Selain beberapa materi yang disampaikan Mas Dito, peserta juga diminta menulis bebas sesuai dengan tema yang ditentukan (saya menulis tulisan berjudul 'Arah'); menulis lead surat kabar dan membuat judul artikel; belajar kata baku dan non baku; dan mengerjakan TTS (Teka Teki Silang) soal kepenulisan (ini banyak sekali majas dan istilah-istilah kepenulisan yang tidak saya mengerti -.-).

Demikian sharing saya di hari pertama workshop creative writing. Over all acaranya keren dan bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki minat sama. Pesertanya pun tidak hanya mahasiswa, tapi juga ada dosen dan anak SMA. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kelak kita bisa menghasilkan tulisan yang kreatif :D. Pada sesi terakhir ditutup dengan foto bersama dan masukan-masukan untuk hari ke-2.

Cantik ya <3
Jadi betah di sini

Ini salah satu produk pengembangan RKJ (namanya Cacta Plant)
Acara ini juga disponsori oleh Cacta Plant

Kebayang kan tempatnya seperti apa :D
(belum ada hasil jepretan yang bagus)

Teman-teman creative writing


Say good bye for the first day. To be continue...

Friday, March 10, 2017

Al-Hafidz

Friday, March 10, 2017
Bismillahirrohmannirrohim..

Segala sesuatu yang diawali dengan basmallah insyaAllah barokah. Seperti harapan masing-masing insan yakni mendapat hidup yang barokah, segala aktivitasnya barokah, mendapat rezeki yang barokah, dan dapat jodoh yang barokah ehhh -jangan terlalu serius ya. 

Saya akan menulis sesuatu untuk saya simpan sendiri sebagai pengingat awal niat baik ini. Seperti halnya basmallah pada setiap awal surat di Alquran kecuali pada surat At-Taubah. Tapi tenang saja, ini boleh dibaca kok, kan udah dipost ya. Karena memang ini blog pribadi, jadi mungkin akan banyak tulisan yang memang kisah pribadi. Kalau bermanfaat Alhamdulillah, kalau tidak semoga lain kali bermanfaat hehe.

Beberapa waktu lalu ketika masih di rumah, saya bercerita banyak sama Ibu. Dari A sampai Z, dari Z kembali lagi ke A. Ibu memang tempat curhat yang paling oke, apa lagi kalau ngobrol asik. Ini ngobrolin masa depan, kerjaan, jodoh, dan lain-lain. Waktu masih menunggu bus jurusan Cilacap-Jogja, kami ngobrol banyak. Dan ditengah perbincangan, saya bilang "Bu, bentar lagi mau lulus. Aku mau ikut kelas Tahfidz ya, mumpung masih di Jogja. Kemarin ngga jadi ikut GP :("Jawab Ibu pun tak terlalu panjang lebar, "Iya, semoga semua harapannya bisa tercapai ya". Dengan cepat saya angkat kedua tangan dan mengaminkan. Siapa yang lebih mustajab doanya selain ibu? Nah.

Sesampainya di Jogja pun, saya utarakan maksud dan tujuan beserta hal ihwal soal gabung di kelas Tahfidz sama mba kos yang sudah gabung sebelumnya. Saya sungguh dapat inspirasi dari sini, dapat saran Alquran hafalan -nah ini malamnya langsung beli-, cerita soal kelas Tahfidz dan lain sebagainya. Awal motivasi saya tidak terlalu muluk-muluk, selagi waktu masih ada kenapa tidak dialokasikan ke hal yang lebih baik. Dari hasil ngaji juga dianjurkan supaya mempunyai amalan andalan, ya tentu saja hal yang menurut saya paling bisa saya lakukan adalah membaca Alquran -padahal masih belajar juga soal bacaannya. Soal kelas Tahfidz insyaAlla tidak begitu memberatkan, soalnya satu minggu hanya satu kali pertemuan dan tinggal setor hafalan saja. Saja? Soal ini manajemen waktu perlu dibenahi lagi.

Coba ingat lagi, berapa buku yang sudah kita baca? Membaca memang suatu aktifitas yang sangat menggairahkan untuk mendapat ilmu dan pengetahuan baru. Tapi kalau belum bisa diimbangi dengan membaca Alquran rasa-rasanya belum kejte guys. Ini bukan ketje ala-ala anak gaul ya. Hanya saja sebegitu besar nikmat yang Allah berikan kok tidak diimbangi dengan amalan pada-Nya. Itu pertanyaannya. 

Ada satu cerita juga yang sangat menohok bagi saya, selain kita bandingkan seberapa banyak bacaan Alquran sama buku yang sudah kita baca. Waktu minta materi IELTS pada salah satu mas di Jogja -sebut saja senior saya. Saya ditanyai "Ikut PPM ngga? GP?". Saya pun hanya bisa menggeleng untuk kedua pertanyaan itu. Sedikit keterangan, PPM itu Pondok Pesanteren Mahasiswa, kalau GP satu tingkat di bawah PPM dengan program akselerasi belajar Alquran dan Hadist. Keren ya. Dulu entah kenapa niat untuk berada di keduanya sama sekali belum terwujud. Ada saja alasan ABCD, sekarang coba lihat, nyesel ngga? :(

Nah, untuk kali ini doakan ya. Semoga bisa fokus di kelas Tahfidz, syukur Alhamdulillah bisa jadi Hafidzah. Aamiin. Saya terus berfikir apakah amalan saya sudah cukup banyak untuk ke Jannah. Semoga yang satu ini bisa jadi salah satu jalan pemberat timbangan amal kelak. Aamiin. Yuk, bersama-sama kita fastabiqul khoirot. Katanya sih bersama-sama lebih baik dari pada sendiri. Sholat jamaah aja pahalanya lebih gede kan dari pada sholat sendiri. Apa lagi ngajak orang di jalan lillah (amar ma'ruf) sama banyak orang, udah berapa kali lipat itu pahalanya?

Nderes (red: baca) Alquran yuk. Hari ini sudah baca belum? Kadang saya juga suka banding-bandingkan berapa banyak buku yang sudah dibaca sama hari ini udah baca Alquran berapa ayat. Satu ruku' saja kalau rutin insyaAllah barokah. #selfreminder. 

Alquran Hafalan (paling kanan, yang biru itu hadist himpunan)

Recommended buat belajar menghafal :)

Ribuan kilometer dari hati yang paling dalam~

Yogyakarta, 10 Maret 2017
09:25 AM


Monday, March 6, 2017

Bola Basket

Monday, March 06, 2017
Hasil gambar untuk bola basket

Bola basket. Apa yang kau pikirkan tentang bola basket? Kedengarannya biasa saja, tapi percayalah hal itu mengingatkanku pada semangat waktu itu. Ini akan sedikit flashback pada cerita beberapa tahun lalu. Tepatnya pada saat aku masih kelas VII SMP. Masih kecil ya hehe. Saat itu aku baru saja lulus Sekolah Dasar, masa dimana aku sering di-bully hiks. Sudah lewat saja, ini akan memakan banyak waktu kalau aku ceritakan juga di sini. ☺

Yap, selepas itu akhirnya aku diterima di SMP Negeri 1 Adipala. Sekolah menengah yang menjadi favorit di daerahku, kurang lebih seperti itu kata kebanyakan orang. Lalu apa sih yang dipikirkan anak seusia SMP? Aku saja lupa apa yang aku pikirkan sewaktu itu. Kurang lebih aku mulai mengenal teman-teman baru, guru-guru baru, dan pelajaran-pelajaran baru yang belum diajarkan di SD. Aku mulai mengenal mata pelajaran yang semakin kompleks. Jugaa beberapa eksterakulikuler yang ada. Ini bagian yang aku suka.

Kali ini entah upacara bendera keberapa yang aku ikuti sejak masuk SMP. Tapi ingat betul, kalau itu adalah upacara bendera yang bersejarah. Dimana aku sangat termotivasi untuk mengikuti ekstrakulikuler basket. Wow. Emang bisa basket? Namanya juga belajar, awalnya niat dulu tong. Kenapa sih ngebet banget pingin ikut basket? Jadi gini nih, upacara waktu itu sekaligus penyerahan penghargaan buat para atlet yang juara di POPDA (Pekan Olahraga dan Seni). Aku liat ada beberapa kakak kelas yang keren-keren dipanggil. Bukan dipanggil ke BK ya :p. Ini dipanggil karena mereka dapat penghargaan dan dikalungkan medali satu-satu. Sebagai anak SMP yang masih polos, aku merasa kalau itu keren banget. Aku cuma membayangkan kalau aku disana. Haha.


Jadi keputusanku untuk mendaftarkan diri di eskul basket sudah bulat, sebulat bola basket. Untuk jadwal latihan tidak terlalu padat, hanya dua kali dalam seminggu di hari Senin dan Rabu. Untuk bergabung di eskul ini tidak perlu seleksi yang ketat, cukup niat yang kuat dalam hati. Karena seleksi alam pun berlaku, siapa yang tangguh dan berkomitmen akan bertahan. Aku termasuk yang bertahan ngga nih? Kita lihat saja ya.


Latihan, latihan, latihan. Terbentur, terbentur, terbentur. Kali ini belum terbentuk seperti halnya kutipan Tan Malaka. "Terbentur, terbentur, terbentuk". Ini masih proses awal. Awal-awal latihan, diri ini masih terlalu berambisi dan bisa dibilang sedikit egois dalam bermain. Hmm, kurang baik ini. Namun seiring berjalannya waktu bermain secara tim pun perlahan terbangun. Ini latihan juga perlu perjuangan. Kadang kalau mainnya tanpa sepatu, telapak kaki bisa melepuh di bagian-bagian tertentu. Tapi ini bukan seseram luka bakar kok hehe. Soalnya lapangannya outdoor, kadang kena panas dan permukaannya kasar.

Setelah latihan rutin sekitar beberapa bulan, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Pembukaan pendaftaran POPDA, di sini dibuka beberapa cabang olahraga, atletik, dan seni. Tentu saja aku masuk ke cabang bola basket putri. Kali ini latihan intensif, sampai ijin kelas buat latihan khusus, siang, sampai dilanjut sore. Begitu terus sampai tim ini jadi kuat. Tapi belum sekuat para pemain di Kuroko no Basuke :( Ini jenis animasi Jepang tentang pemain basket yang udah master. Oke, pecinta anime pasti tahu. ☺

Sebagai anak SMP yang masih polos, aku merasa basket itu eskul yang paling oke, paling keren, paling gauul. Sampai aku bener-bener jatuh cinta sama basket. Latihan siang-siang sampe iteeeem. Sampai suatu hari ada yang bilang, "Des, kamu pake topeng ya? Item banget". Ini lah awal perjuangan guys, buat jadi jawara. Dan benar adanya, ketika hari itu tiba. Aku bermain semanis mungkin dan masuk ke tim inti. Bermain dengan tim terbaik se-Kabupaten Cilacap, hitung saja ada berapa sekolah menengah pertama di Kabupaten Cilacap. Tapi bisa dibilang tidak semua sekolah mengirimkan timnya.

Suara peluit, suara decit sepatu, suara drible bola tak asing lagi di masa itu. Riuh suporter menguatkan semangat, merasa jadi bintang lapangan. Ea eaa. InsyaAllah yha top scorer. :D Bermain basket bukanlah sesuatu yang mengasikkan kok, tentu saja jika tidak bermain dengan hati. Karena aku sudah terlanjut jatuh cinta, pikirku waktu itu terus bermain sampai titik penghabisan. Napas perlu diatur juga, karena main basket itu lari bukan jalan santai kalau Agustus-an. Bener-bener lari buat ngejar bola, dan merebut dari lawan. Awas saja kalau kelihatan jalan, papah (red: pelatih) pasti marah. Adapun luas lapangan sekitar 28x15 meter, cukup jauh untuk berlari kesana-kemari untuk ukuran anak SMP. Jujur ini menyenagkan, walaupun harus ngos-ngosan dan menguras tenaga. Nah, langsung saja berita bahagianya... Tim kami dapat juara III setelah melawan tim sebelah yang badannya lebih gede. :( Ini judulnya kalah postur. Ya sudah tim kami yang masih imut-imut, kecil cabai rawit sampai pada titik ini. But, overall Alhamdulillaaah. 


Ingat awal motivasiku main basket? Yaitu karena aku pingin medalinya, tapi ternyata kejuaraan kali ini dapatnya piala bukan medali. Telolet telolet. Ibarat kata, 'terhempas' sudah harapan. Tapi nyatanya aku tak sampai patah hati kok hehe. Aku tetap jatuh cinta dengan basket sampai masa SMA. Waktu SMA juga sama, mendapat juara II tapi untuk kejuaraan sekolah menengah atas. Bagiku perjuangan yang telah lalu sudah dapat penawarnya. Bahagia betul dan merasakan sensasi prosesnya. Karena aku merasa memilikinya (red: basket) selama proses itu berlangsung, jadi hasil adalah sebuah bonus atas perjuangan yang diberikan.



Wednesday, January 4, 2017

Maknai Setiap Detiknya

Wednesday, January 04, 2017


Senang sekali bisa diberi kesemapatan menulis setelah beberapa hari ini disibukkan dengan beberapa agenda yang menurut saya sangat keren. Mungkin istilah 'disibukkan' bukan istilah yang tepat, hanya saja manajemen waktu dan manajemen diri yang masih perlu dikatamkan lagi.

Well, ini adalah hari pertama saya di rumah pada liburan panjang semester lima. Tapi sepertinya saya tak bisa sepenuhnya di rumah, mengingat sebagai mahasiswa semester akhir dituntut untuk wisuda tepat waktu... Saya tak ingin wisuda terlalu premature, apa lagi postterm, aterm saja harapannya. Untuk beberapa agenda yang sebelumnya saya katakan 'keren', itu memang benar adanya. Tapi ini definisi keren menurut penulis. Sayangnya belum sempat saya tuliskan. Baik, untuk teman saya yang disana, tunggu ya rilis post selanjutnya. Tenang, saya sudah menggantungkan niat untuk menulis itu, ingatkan saya terus ya. Setidaknya saya juga ingin berbagi cerita dengan yang lain. Mungkin saja ada manfaatnya, jikalau tidak, itu sudah cukup membuat penulis senang bisa meriwayatkan perjalanan ini untuk dinikamti.

Cukup ya, prolog yang kurang begitu sistematis ini. Maafkeun.

Siang tadi, saya sampai di tanah kelahiran. Perbedaan begitu terasa, mulai dari keramaian, suasana, dan beberapa bahasan yang orang-orang disini obrolkan. Barangkali perjalanan adalah cara baru saya untuk memahami dan belajar hal baru. Mengingat di semester depan saya sudah tidak mengambil SKS matakuliah di kelas lagi. Perjalanan tadi sungguh kentara menyenangkan, bayangan untuk pulang naik kereta pun akhirnya tersampaikan. Perjalanan sekitar tiga jam ini tak begitu terasa ditemani teman ngobrol yang ternyata panitia International Conference di Malaysia satu bulan yang lalu. Sungguh dunia begitu sempit ya. Ngobrol ngalor-ngidul tak bersimpul, tapi setidaknya tahu beberapa hal baru. Perjalanan ini juga tak terasa sendiri sambil ditemani buku Emha Ainun Najib yang berjudul Sedang Tuhan pun Cemburu. Bacaan ini menambah perspektif baru tentang hidup, dan begitu dalam merefleksikan betapa panjang pertanyaan atas hidup.

Perjalanan dengan kereta jarang sekali saya lalui. Senang rasanya naik kereta. Kedengarannya seperti kekanak-kanakan ya. Naik kereta sembari ditemani buku seperti kolaborasi untuk sebuah ketenangan. Anggap saja ini suatu kesemapatan langka untuk mendapat ketenangan itu, jadi saya menikmati betul perjalana pagi tadi.

Random, bingung apa yang mau saya tuliskan. Mungin ini yang dinamai block writer. Tapi ada beberapa hal yang patut untuk dipetik. Setelah perjalanan dan sampai di stasiun terakhir, saya menaiki bus untuk sampai di terminal dekat rumah. Saya mendengar obrolan seorang nenek dan ibu paruh baya. Mereka membicarakan jaminan kesehatan yang kurang sesuai dengan harapan. Saya sebagai calon praktisi kesehatan yang sedikit tahu, dan memang ada mata kuliah khusus tentang jaminan kesehatan, saya mereasa tertarik untuk mendengar obrolan itu. Maafkan diri ini, jika saya menguping. Tapi mungkin tidak dibenarkan juga jika dibilang menguping, pasalnya mereka mengobrol dengan suara yang keras. Intinya saya merasa dapat menyerap apa aspirasi mereka, antara mereka paham betul atau tidak, mereka membahas sekenanya. Saya hanya bisa manggut-manggut sambil mendengarkan. Sepertinya pendekatan seperti ini sedikit banyak cukup efektif untuk melihat kompleksitas yang ada di masyarakat secara langsung. Intinya mereka kurang sosialisasi dan prasangka negatif mereka masih cukup kental untuk merefleksikan ketidakpercayaannya pada birokrasi yang ada. What should I do guys? Sebagai seorang yang ada di tempat, saya menyadari dan belum cukup tahu untuk masuk dalam perbincangan asik mereka. Alhasil saya cukup mendengarkan saja, dan mencoba berfikir entah berfikir apa. Kepala saya penuh dibuatnya. Dan lagi-lagi saya menyadari diskusi saya belum cukup banyak untuk membuahkan hal yang solutif di situasi itu.

Sampai di terminal, kembali saya jumpai suatu hal dengan seorang pedagang asongan. Sembari menunggu jemputan, saya merasa empati sehingga memutuskan untuk membeli kacang bawangnya. Beliau sudah tua, dagangannya masih banyak. Karena ATM saya terblokir, jujur saya hanya membawa kurang lebih 20ribu saja, dan 10ribu untuk ongkos bis. Tinggal lah 10ribu dan saya berniat beli dua ribu. Saya beri asongan itu dengan uang lima ribua-an. Sejenak pedagang itu memandangi uang yang saya beri. Singkat pemikiran ini hanya menyangka kalau uang saya robek atau ada yang aneh. Lalu si penjual bertanya "Mbak 5000-an ya?". "Iya pak", jawab saya. Sedih, pedagang asongan ini antara sudah tua sehingga susah memahami mata uang atau memang tidak tahu nominal yang ada. Lalu bagaimana nasibnya ketika mata uang dengan desain yang baru sudah beredar sampai sini? Semoga tidak bingung lagi ya pak, bedakan mana yang 50 ribu-an atau yang lima ribu-an. :)

Perlu peyadaran bahwa banyak kaum marjinal atau termarjinalkan di negeri ini. Solusi, iya solusi itu yang dicari. Boleh saya sampaikan kutipan dari Tan Malaka yakni “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.” Mungkin istilah cangkul dalam tulisan ini kurang ada kaitannya, tapi untuk 'melebur dalam masyarakat' sebagian dari kebanyakan kaum intelektual enggan untuk terlibat di dalamnya. Lalu bagaimana solusi itu akan muncul ketika belum sempat masuk dan melebur dalam dinamika masyarakat? Diri ini masih perlu banyak sekali belajar. Mari berpikir bersama, ide iya ide. Semua bisa berawal dari ide dan niat baik untuk memberikan sedikit sumbangsih atas demikian itu. Sociopreneurship, itu yang sedikit saya dalami belum lama ini. Menjadi seorang CEO bukan sekedar keren-kerenan, tapi suatu manajemen puncak dalam memonitor tersampaikannya kebaikan. Keren. Siapa pula yang tak ingin berperan demikian, saya pun ingin. Semoga niat baik bisa terealisasikan. Dan mungkin itu salah satu dari cara untuk menjawab permasalahan yang ada, kita semua bisa memulai dengan cara masing-masing.

Selamat berbenah diri, lagi, dan lagi. Perjalanan di awal tahun ini menuai banyak hal. Semoga hal yang ingin dicapai di tahun ini bisa segera tercapai. Aamiin.

Cilacap, 4 Januari 2017
06:06 PM

Pict source: www.deviantart.com

Thursday, December 8, 2016

Mereka pun Semangat

Thursday, December 08, 2016
Pekan Raya Sosial

Pernahkah kita tiba-tiba mengeluh? Suka bilang kalau Tuhan tidak adil. Suka bilang kalau capek, lelah, dan sukanya manja-manjaan. Ahh, saya CAPEK, saya KESAL dengan si itu, saya BAPER. Saya ini dan itu. Pernah pasti, penulis pun tak bisa luput dari hal itu. Tapi jika kita tahu, di kehidupan lain ada yang barangkali lebih capek, lebih kesal, lebih lebih kurang beruntung dari pada kita. Saya tulis ini bukan maksud untuk menggurui, menuntut untuk sepemikiran, apa lagi harus ini itu. Penulis hanya ingin merefleksikan hati ini yang benar-benar gerimis dibuatnya.

Sabtu (3/12) bersama teman-teman Sosial Masyarakat BEM KM UGM, saya mengunjungi salah satu SLB di wilayah Yogyakarta. Kegiatan ini tepatnya bernama Pekan Raya Sosial yang merupakan salah satu proker Dirjen Pelayanan dan Bantuan Sosial. Sebelumnya saya benar-benar kurang tahu dan kurang paham konsep acara karena saya dari Dirjen Pendidikan, dan baru tahu kalau akan mengunjungi adik-adik disabilitas. Sesampai disana, kami disambut dengan hangat. Terkhusus disambut dengan riang oleh seorang anak bernama Andi, dia lincah, ramah, bahkan saat ketemu langsung salaman dan peluk kakak-kakak ini satu-satu. Seolah dia menjumpai teman lama yang amat dirindukan. Poin pertama saya senang melihat anak-anak ceria. 

Setelahnya kami mencoba membaur dengan adik-adik lain. Mereka begitu antusias mengikuti games yang dipersipakan oleh panitia. Saya lihat satu-satu anak-anak ini, mereka luar biasa. Antara mengerti atau tidak apa yang terjadi pada dirinya. Hati ini tiba-tiba mulai tak tenang, antara malu dan sedih karena tak pandai bersyukur. Saat itu juga saya ingin sekali banyak bersyukur, setiap hari. Tak ingin terlupakan sekecil biji Zahra pun. 

Lalu saya tanyai namanya, kalau tidak salah dia bernama Zara, soalnya kurang begitu terdengar jelas. Saat berjumpa dengan anak kecil, tak jarang diri ini dibuat kepo oelhnya. Saya bertanya mengenai “apa cita-citanya”. Dengan mantap dia menjawab kalau ingin menjadi dokter. Dokter apa? Dia jawab “Dokter anjing”, seketika itu saya tersenyum sambil bilang “oh Zara mau jadi dokter hewan”. Singkat cerita dia menjawab iya. Saya pun tak hanya menanyai satu gadis kecil ini, dan mulai bertanya ke yang lainnya. Dan jawabannya sama, dia juga ingin menjadi dokter, kali ini namanya Putri. Ternyata dokter menjadi profesi yang amat diidolakan adik-adik di sini.

Sekolah yang hanya terdiri dari sekitar 64an siswa, yaitu siswa SD sampai SMA ini begitu luar biasa. Mampu menjadi wadah semangat adik-adik ini dengan segala keterbatasannya. Kata salah satu guru yang telah mengabdi 20 tahun di SLB tersebut, di tempatya mangajar banyak yang menderita tuna grahita, ada yang ringan sampai berat. Sungguh mulia ibu ini, sabar. Panggilan hati yang membuatnya terus bertahan, begitu kurang lebih kesan bu Ismiati setelah berbincang ringan dengannya.

Pertama, saya ingin bilang bahwa saya sangat bersyukur lahir dengan normal. Kedua, keterbatasan fisik apa yang membuat diri ini enggan untuk keep moving? Ketiga, nikmat Tuhan mana yang terus saya dustakan?

Sedikit waktu ingin saya ambil untuk merenunginya... Teman, jawaban apa yang akan dilontarkan ketika ditanyai tentang 'arti kehidupan'? Maknailah sendiri arti kehidupan menurut diri masing-masing sampai terlihat jelas apa itu tujuan hidup. Tanyakan pada hati kita masing-masing. Semoga kita bisa menemukan jawaban yang tepat. Tak jarang orang-orang terdekat sembari iseng kutanyai 'apa tujuan hidupnya'. Satu dua jawaban mereka klise, ada yang luar biasa, dan ada yang hmm unpredictable. Bisa dibilang dua dari 10 orang yang kutanya bilang kalau dia tidak tahu tujuan hidupnya, singkat kata let it flow. Kalau kata orang ini fenomena yang biasa saja, saya akan berpendapat kalau ini sangat akut dan perlu penanganan segera.

Lalu apa korelasinya? Sejauh saya tahu, sekecil kita mengerti arti kehidupan kita akan memiliki visi yang lebih jelas untuk direalisasikan. Karena hanya ikan mati yang akan ikut arus. How? Sudah sering dengar kalimat itu kan?
Mereka mungkin tidak tahu secara jelas arti kehidupan, tapi semangat mereka mewakili begitu besar arti kehidupan yang harus diperjuangkan. Dan mereka pun mempunyai mimpi yang sama-sama terus diperjuangkan.

Jadi, dari kegiatan Pekan Raya Sosial itu saya belajar banyak hal. Begitu dalam mengerti arti bersyukur dan belajar arti berbagi, minimal berbagi bahagia. Terima kasih banyak saya sampaikan kepada keluarga Sosmas BEM KM UGM yang sangat solid. Memberikan pembelajaran yang luar biasa, mengajarkan rasa kepekaan sosial, berinteraksi langsung pada masyarakat, dan menambah amal kebaikan sebagai pemberat timbangan amal kelak.

Menyanyi bersama

Persembahan Lagu dari Kakak-kakak Sosmas


See you… The next journey will be come…



Yogyakarta, 7 Desember 2016
07.32 AM


Wednesday, October 5, 2016

Inspirasi?

Wednesday, October 05, 2016

Pagi ini sarat akan kata “inspirasi”, bagaimana caranya menginspirasi, bagaimana menjadi inspirator, dan hal-hal semacamnya. Barang kali kesemuanya itu bahasan yang menarik menjadi topik diskusi ringan sambil ngeteh di depan TV ya. Hehe

Kata salah satu senior saya, menginspirasi itu tak lain adalah bagaimana cara kita menggerakan orang lain untuk bertindak dengan perbuatan yang kita lakukan. Sehingga orang itu tergerak untuk melakukan hal yang sama (read: kebaikan) yang sudah kita lakukan. So simple kan? Simpel kedengarannya, tapi rasa-rasanya butuh usaha yang lumayan ya. 

Saat ini memang bukan lagi jamannya obral omongan, dan sungguh pembuktian itu lebih bijaknya suatu tindakan dari pada just talk but do nothing. Belajar untuk menginspirasi memang perlu proses dan tidak semudah bikin mie instant pakai rice cooker.hehe. Semua hal yang besar sudah pasti penuh usaha yang besar pula. Tak lupa proses di dalamnya sungguh bisa menjadi pendewasaan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Pagi ini dapat chat dari teman, yang mungkin akan menjadi pemantik semangat untuk terus berkarya. Jadi, beberapa bulan lalu sempat ikut call fo paper untuk dipublikasikan di Jurnal Kesehatan Vokasional, dan Alhamdulillah lolos. Buat teman saya yang satu ini, saya ucapkan terima kasih atas apresiasi pada paper perdana saya.

Next, ini pesan chat dari teman saya yang terus memicu sekresi hormone serotonin hehe, “Aku suka baca tulisanmu, kusuka gaya bahasamu, keren e skill nulis mu, aku ndisek ra interest nulis blas, saiki dadi pen nyoba, cuma aku jadi mikir, apa aku nyoba nulis juga”. Agaknya itu sedikit merefleksikan makna menginspirasi dari senior saya yang saya tulis di awal. Dapat pesan baik pasti senang, begitu juga saya ketika ada yang memberi respon positif atas apa yang sudah dilakukan. Karena memang fitrah manusia seperti itu. Tapi agaknya itu semua perlu dipertanggungjawabkan, about how to prove that we deserved it. Kata yang selalu ingin saya dengar dari teman-teman yang lain adalah “aku jadi tertarik, aku ingin”. Sesederhana itu.

Demikian sedikit makna menginspirasi yang saya pahami. Betapa tidak, kita akan menjadi begitu senang saat orang lain turut serta terinspirasi. Bukan soal seberapa hebat kita baru memulai, tapi berusahalah memulai untuk menjadi hebat dan terus memberikan hal positif pada lingkungan sekitar. *sosoan :p* Diri ini juga masih perlu belajar banyak. Berani terbentur untuk terbentuk. “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk -Tan Malaka-.”

Yogyakarta, 5 Oktober 2016
Kos DG
08:49 AM

Source pict: www.gambar-katakata.com


Wednesday, May 25, 2016

Bacaan Sore itu...

Wednesday, May 25, 2016

Perempuan kadang selalu identik dengan masalah hati, mungkin sebutan ini lebih cocok untuk cewek baper-an (read: hatinya mudah tersentuh) macam yang nulis tulisan ini. Sore kemarin di perpustakaan pusat, berawal dari niat hati akan menunaikan sembayang mghrib. Hati ini kembali bersemangat menapaki jalan lillahi, mengingat waktu dekat ini iman sedang naik turun tak menentu. 

Bacaan shalat sang imam sungguh merdu, menyejukan hati, dan menentramkan jiwa. Sejauh ini masih terngiang sampai penulis menuliaskan ini, masyaallah. Dengan imam shalat yang demikian merdunya, masyaallah, barangkali shalat pun akan menjadi hobi, dengan dalih tanpa mengurangi kemurnian niat shalat :')

Kemudian saya teringat dalam majelis yang menjelaskan tentang bab khusyuknya shalat. Ketika saya paparkan di awal, tentang baper yang identik dengan perempuan dan lebih banyak ditafsirkan dalam konotasi negatif. Agaknya, baper tidak melulu dalam artian yang demikian apalagi dalam artian kisah merah jambu anak muda. Coba sedikit di tengok kembali ke-baper-an kisah sahabat nabi di kala itu.

Diriwayatkan dari Albukhori : yang menjelaskan bahwa ketika Rosulullah sedang sakit, beliau meminta Abubakar untuk menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian Aisyah berkata kepada Rasulullah “Sesungguhnya ketika Abubakar berdiri menggantikan Engkau di depan orang-orang, tidak terdengar bacaannya oleh orang yang di belakang karena tangisannya”. Masyaallah, telah diriwayatkan Abubakar adalah sahabat nabi yang paling terhanyut hatinya. Teramat tersentuh hatinya saat membaca dan memaknai setiap arti bacaan shalat. Renungkan kembali. Bapernya Abubakar sungguh luar biasa dalamnya diatas khusuknya menjalankan ibadah, yakni ibadah yang nantinya akan dihisab pertama kali di akhirat.

Kemudian saya tengok kembali pada dimensi waktu yang berbeda, ya sekarang ini. Sudah seberapa dalam hati ini memaknai dalamnya isi bacaan shalat? Malu, sungguh malu. Masihkan setiap insan mengharapkan lebih pada-Nya? Ketika beribadah pun ala kadarnya. 

Masih ingatkah? Masih ingat? Kisah lain yang menceritakan seorang rajul shalat, kemudian dipanah kakinya dan panah itu dicabut tidak terasa? Sudah sampai sekhusyuk itu kah? Kisah mana lagi yang akan terus diceritakan sebagai pengingat dan cambuk diri yang masih jauh dari jalan istiqomah?

Tak luput, setiap ukhti shalihah pasti ingin mendapati imam shalat yang bagus bacaannya dan menjadi imam pribadi dalam shalat lima waktu. Begitu pun diri ini, tapi nampaknya kini harus kembali banyak bercermin. Who am I? Masih seorang yang perlu arahan dan bimbingan dalam perjalanan ke sebaik-baiknya tempat, yaitu Jannah. Belum sepenuhnya pantas dan istiqomah, tapi masih belajar untuk istiqomah. Seujung jari dari ke-luarbiasa-an Aisyah istri Rasulullah dan Asiyah istri Fir'aun laknatullah pun belum ada. Semoga kita semua termasuk golongan yang masih diberi kesempatan untuk terus menyempurnakan segala perintah-Nya. Aamiin.

Salam dari saya yang takut akan peradilan di hari akhir.

Yogyakarta, 25 Mei 2016
12:40 PM

pict source : http://iqna.ir/files/id/news/2016/2/22/631_950.jpg

Monday, January 18, 2016

Dialog dengan-Mu

Monday, January 18, 2016


Ya Allah, malam ini jadikanlah malam syahdu dialog diantara kita. Izinkanlah aku berdialog lebih lama, bukan dialog seperti menuntut kebijakan public yang marak terjadi, aku hanya ingin menyusuri ruang-ruang dalam hidupku. Tapi disini aku juga tidak akan menuntut, menuntut kebijakanmu atas hidupku, selayaknya para pejuang keadilan itu. Karena aku yakin Engkau adalah Maha Adil atas segala sesuatu.

Berikan aku waktu khusus Ya Allah, walaupun aku tahu Engkau tak pernah tidur sekalipun. Tapi aku ingin ini menjadi malam spesialku untuk mengutarakan apa yang ada. Walaupun lagi-lagi tanpa mengutarakannya Engkau pun sudah tau segalanya. Aku hanya perlu komunikasi, iya komunikasi dengan-Mu. Maafkan aku yang sama sekali tidak bisa memberikan perhatian penuh pada-Mu, anehnya aku malah memberikan perhatian atas apa-apa yang sebenarnya boomerang bagi diriku sendiri. Karena sejauh ini yang aku pahami, betapapun dalamnya kebahagiaan itu, selalu ada kecewa yang sama dalam. Malam ini aku ingin menyampaikan, malam ini aku ingin mengingat.

Terimakasih Ya Allah, Engkau lah sebaik-baiknya perencana. Engkau lah sebaik-baiknya penulis kisah, entah jika dibukukan tak akan mampu setiap toko buku dijagat raya ini menjajakan buku dari setiap kisah yang Engaku goreskan. Aku seharusnya banyak bersyukur, tidak malah menyia-nyiakan segala kenikmatan yang telah Engkau berikan. Parahnya malah aku sering berkeluh kesah atas kisah yang Engkau tuliskan untukku, padahal tahu betul Engkau adalah sebaik-baiknya penulis. Perlu sekali lagi aku tekanakan, aku tak selayaknya mengeluhkan ini itu. Tanpa tendensi untuk memacu kelenjar lakrimalis untuk bekerja lebih ekstra, mengekskresikan apa yang disebut dacry. Dan aku selalu benci jika hal itu terjadi.

Andai saja aku selalu ingat kisah yang menggambarkan seorang muslim yang sengaja tinggal di suatu pulau, sendiri, jauh dari kemaksiatan. Selalu taat beribadah selama masa hidupnya yaitu 500 tahun lamanya. Jika diketahui, ibadah selama itu dan ketaatan yang luar biasa itu hanya dapat mengganti nikmat penglihatannya, yaitu mata. Ibadah selama 500 tahun hanya dihargai nikmat melihat. Lalu nikmat apa lagi yang kita dustakan? Semakin terketuk lah hati ini, aku sudah beribadah seberapa lama? Satu per 16 nya seorang muslim itu pun tak ada. Sudah sepenuhnya taatkah aku? Hmm, aku hanya bisa menggeleng. Lalu jika ditanya, seberapa taat dan seberapa lama kita beribadah sehingga kita dapat menggantikan seluruh nikmat-Nya dan bisa masuk surga? Aku tak pernah tau jawaban pastinya. Yang aku tahu semua insan dikehendaki ke sebaik-baiknya tempat kembali adalah karena kasih sayang-Nya. Sungguh sama sekali tak berdaya seorang manusia tanpa kasih sayang-Nya/rahmat-Nya.

Kasih sayang? Iya kasih sayang! Anak muda, mudah sekali bilang sayang, perhatian ke lawan jenisnya entah untuk maksud apa, agaknya terlalu abstrak untuk dijelaskan, tapi yakinlah pasti paham apa yang dimaksudkan. Ya Allah aku kembali mengetuk hati ini, sudah seberapa sayangkah aku pada-Mu, atau sudah seberapa besar aku membuatmu jelous. Lagi-lagi aku terlalu latah menggunakan istilah anak muda. Iya, sudah seberapa besar aku membuatmu cemburu, dibuat cemburu oleh makhluk ciptaanmu sendiri. Maafkan aku, aku sungguh minta maaf. Kali ini akan kubiarkan kelenjar lakrimalisku mengekskresikan dacry, mengalir bersama hormone adrenalin yang memang harus keluar. Mereda bersama penyesalan.

Seberapa lama waktuku, aku habiskan untuk memikirkannya di celah aktivitasku setiap hari, yang seharusnya itu adalah nama-Mu. Malahan nama-Mu saja aku ingat hanya saat kewajiban beribadah itu datang atau saat bacaan ayat suci itu harus dilantunkan, Astagfirullah kembali kubiarkan dacry itu menetes lagi. Buruk sekali diri ini, sangat buruk.

Terimakasih ya Allah, terimakasih. Tanpa kehendakmu aku tak akan pernah menyadari ini semua, aku tau kasih sayang dan rasa yang tumbuh di waktu muda itu tak pernah salah dan tak sepantasnya disalahkan. Aku yang seharusnya belajar, belajar dan banyak belajar dari guratan pena-Mu, dan menjadikan rasa dan kasih sayang antara ikhwan dan akhwat sebagai pemantik untuk lebih dekat dengan-Mu. Tetap sayangilah aku dan orang-orang yang aku sayangi ya Allah.

Terimakasih atas segala nikmat dan kasih sayang yang telah Engkau berikan. Sungguh aku tak akan pernah bisa menghitung segala nikmat itu, menggunakan formula si jenius sekalipun. Semoga nikmat-nikmat ini bisa aku gunakan untuk hal yang bermanfaat. Terus memperbaiki dan memantaskan diri. Tolong ingetin kalau aku keterlaluan J

Kenapa aku harus mengutarakan sebanyak ini? Entah lah, aku hanya ingin menuangkan isi pikiranku saja. Isi pikiranku seolah-olah hanya tentang itu-itu saja ya? Hmm…

Hati perempuan bisa memaafkan, tapi tidak bisa melupakan apa yang pernah singgah di pedalaman hatinya (A.Fuadi, 2015). Entah apa relevansinya kutipan itu dengan tulisan di atas. :D

Ingat quote indah ini, saat aku temukan tanggal 25 Agustus 2014. “Ketahuilah bahwa para kekasih Allah tidak akan khawatir dan berduka cita” (Yunnus : 62).

Yogyakarta, 12 Januari 2016
02:32 AM
Kos DG.

Tuesday, April 7, 2015

Pendekar Kentang

Tuesday, April 07, 2015
Apa sih Nasionalisme itu??

Kebanyak anak muda pasti tau, apa arti nasionalisme itu. Tapi kebanyakan dari mereka pasti belum pernah meraskan sejatinya nasionalisme itu sendiri. Jujur saja, aku juga baru bisa merasakan sebenar-benarnya rasa nasionalisme itu, belum lama ini. Semua itu berawal dari cerita panjangku..... 

Waktu ada oprec BEM KM UGM, aku mendaftarkan diri menjadi calon anggota BEM KM. Pada awalnya aku masih ragu, untuk apa sih ikut BEM? Cuma buat mencari popularitas? Cuma buat mencari CV? Cuma buat mencari kenalan? (baca: pacar). Alasan-alasan itu sangat tidak sinkron dengan apa sejatinya menjadi anggota BEM itu sendiri yaitu berkontribusi bagi lingkungan sekitar!
Alasan utama menjadi anggota BEM "Aku ingin belajar memikirkan hal-hal baru, aku ini berkontribusi bagi lingkungan sekitarku, aku ingin menjadi lebih bermanfaat, aku ingin belajar berorganisasi". Apa itu memikirkan hal-hal baru? BANGSA INI! Yeah, cakupan itu masih terlalu luas, memikirkan hal-hal baru dimulai dari memikirkan kebahagiaan orang lain. Setidaknya dengan memikirkan hal-hal baru, apa pun itu, harapannya bisa sedikit memberikan sumbangsih terhadap problematika hal tersebut.

Sedikit flashback...
Dulu waktu semester satu, aku bener gak aktif dalam organisasi atau pun turut dalam kepanitiaan. Di situ aku sungguh merasa, betapa useless aku ini. Tanpa gerakan, tanapa arti. Kuliah tiap hari, dijejali materi dari dosen. Mengerjakan tugas, laporan, belajar sebelum pretest. Walaupun pada akhir semester satu aku dapat IPK 4.00, semua itu tampak kurang tanpa aku berkontribusi untuk lingkungan sekitar dan memberikan kebermanfaatan. Tanpa mengurangi rasa syukur, aku juga sangat berterima kasih telah diberi kesempatan meraih IPK 4.00 di semester pertama aku kuliah. Alhamdulillah...
Pada suatu keadaan dimana aku tidak memberikan efek apa pun pada lingkungan sekitar. (baca : tak ikut organisasi). Sesuatu dalam diri ini aku merasa ada yang hilang. Di situ aku mulai berfikir, apa yang bisa aku lakukan. Tak ada aktivitas lain, selain rutinitas menjadi mahasiswa kupu-kupu (baca: kuliah pulang - kuliah pulang). Hatiku mulai tergerak, bagaimana bangsa ini akan maju jika setiap anak muda di tanah air ini seakan acuh pada keadaan lingkungan di sekitarnya. Bahkan pada bangsanya, mungkin mereka tak akan pernah berfikir sampai hal itu. 

Awal aku oprec BEM KM UGM, dari tahap per tahap aku lalui. Mulai dari pembuatan essay, action plan, acara pra-PENDEKAR, hingga acara inti yaitu supercamp di Kaliurang selama tiga hari dua malam. Sebelumnya apa sih PENDEKAR itu? PENDEKAR itu adalah singkatan dari Pendidikan Dasar dan Eksplorasi Karakter. Jadi di dalam serangkaian acara PENDEKAR, kami para calon BEM KM UGM, mendapat materi-materi tentang kepemimpinan, kebangsaan, pensi, hingga acara seru-seruan semua peserta supercam. Di sesi penyampaian materi, semua dilakukan komnikasi dua arah. Persta PENDEKAR dapat menyatakan pendapat, bertanya, dan diskusi tentang studi kasus yang diberikan. Di sesi ini aku merasakan Nasionalisme peserta PENDEKAR benar-benar luar biasa. Dari pendapat atau apa pun yang disampaikan teman-teman PENDEKAR telah mewakili rasa Nasionalismenya, dan rasa peduli terhadap keadaan bangsa ini. Aku semakin sadar, bahwa aku berada di serangkain acara yang luar biasa. Yang memberikan begitu banyak kemanfaatan. 

Dari supercamp itu, nilai-nilai kebersamaannya juga sangat tinggi. Tak hanya sesi penyampaian materi, have fun, kami juga dilatih dan dipersipakan menjadi pemimpin-pemimpin yang amanah, anti korup, memiliki kejujuran yang tinggi, dan bermoral. Ada sesi di malam supercamp, dimana para peserta PENDEKAR di latih secara mental oleh komisi disiplin. Para peserta ditekan secara mental atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Hingga tercipta perjanjian 'penjagaan kain merah' yang diamanahkan dari salah satu komdis, dan harus dikembalikan setelah kami berubah menjadi lebih baik. Kami dari peserta PENDEKAR berjanji akan mengembalikan kain merah itu jika telah berhasil melakukan perbaikan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Perbaikan itu dapat dinilai jika terbukti adanya, sehingga diputuskan dikembalikan saat berakhirnya kepengurusan BEM KM dimana kami bisa membuktikan perbaikan itu.

Salah satu hal yang paling mengesankan adalah saat pelatihan aksi. Para peserta PENDEKAR sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Kami berbondong-bondong melakukan simulasi aksi, serentak, dan kompak. Dari pelatihan itu, aku baru tahu bagaimana caranya menyampaikan aspirasi pada pemerintah mewakili rakyat, rakyat kecil, rakyat tertindas. Peran mahasiswa sangat berpengaruh terhadap 'akan dibawa kemana bangsa ini?' Menjadi mehasiswa yang aktif dan kritis akan sangat membantu Indonesia menjadi lebih baik lagi. Tentunya dengan adanya langkah nyata yang dapat diimplementasikan pada bangsa ini.

Udah sejauh ini, tapi kok gak ada nyambung-nyambunngnya sama judulnya ya??
Jadi gini, selama supercamp berlangsung, kami hanya makan nasi satu kali di akhir sesi saat acara berakhir, dan selebihnya kami makan kentang. Makan pagi, siang, malam, kentang terus. Untuk melampiaskan kebosanan kami dengan yang namanya kentang, kentang itu sendiri dijadikan maskot PENDEKAR angkatan kami. Jadi terciptalah nama 'Pendekar Kentang'. (yeayyy prok prok prok)

Setiap peserta PENDEKAR memiliki kelompok masing-masing, aku masuk kelompok L. Ini dia membernyaa wkwk
 
Baru sempet narsis di akhir supercamp, soalnya waktu acara berlangsung dilarang mengiperasikan Hp -_- *itu dia aksi-asksi narsis kelompok L *seneng bisa serua-seruan bareng kalian :D


Setelah acara supercamp selesai, alur selanjutnya adalah sesi wawancara. Setelah itu, tinggal nunggu hasil pengumuman, dan akhirnya aku lolos dan masuk Kementrian PSDM sesuai dengan pilihan pertama. Alhamdulillah ya... ^.^


Ini dia, foto aksi kekompakan kami waktu usai pelantikan Anggota BEM KM UGM 2015 di bawah jembatan Teknik UGM. 
~BEM KM~

Ini lah ceritaku... 
Senang rasanya bisa menjadi bagian dari BEM KM UGM ^.^ ~Bulak Sumur Muda.
Terus tingkatkan rasa nasionalisme, kobarkan jiwa menuju Indonesia yang lebih baik!

Hidup Mahasiswa Indonesi!

Friday, October 31, 2014

Perbedaan Pradigma Lama dan Pradigma Baru RMIK

Friday, October 31, 2014
Pradigma Lama
Fokus pada ruang / unit kerja
Model prodek berbentuk fisik
Konsentrasi pada formulir dan desain
Data tersebar
Kerahasiaan belum sepenuhnya terjamin
Sistem koding manual
Organisasi Internasional = IFHRO
Jabatan tertinggi = Administrator
Sulit digunakan untuk pengguna yang berbeda
Assembling data secara manual
Transportasi data manual dan sulit
Memenuhi fungsi ALFRED
Penggunanya badan-badan pengguna RMIK
Waktu pengolahan dala lama
Data yang dihasilkan kurang akurat

Pradigma Baru
Fokus pada informasi
Model dalam bentuk data administrasi dan data audit
Konsentrasi pada penerapan logikal data
Data terpusat
Kerahasiaan terjaga
Sistem koding otomatis
Organisasi Internasional = IFHIMA
Jabatan tertinggi = Health Information Management
Tidak ada kesulitan bagi pengguna lain
Assembling data secara komputerisasi
Data mudah ditransfer
Memenuhi tujuan primer dan sekunder Rekam Medis
Pengguna individu dan institusi
Waktu pengolahan data lebih efisien
Data yang dihasilkan lebih akurat

Sunday, October 26, 2014

CV dalam Bahasa Inggris

Sunday, October 26, 2014
Hallo.... 
Kali ini aku share CV... ^^
CV ini sebenernya aku bikin buat nglengkapin tugas PPSMB Palapa UGM sekitar dua bulan lalu lho.. Tepatnya tanggal 19 Agustus 2014. ;)
Ini aku share buat yang lagi butuh referensi aja. *Semoga bermanfaat ^_^


CV (Curriculum Vitae)

I. Objective
        I have a strong ambition to study in order to increase my knowledge and develop my self. And than, I will applying about all that I have got.

II. Personal Details
     Name             : Destri Karlina
     Address             : Jalan Penatusan No.06 Rt.002 Rw.002 Bunton – Adipala
     Contact Number : 08564788XXXX
     Nationality     : Indonesia
     Date of Birth     : Cilacap, December 18, 1995
     Gender : Female
     Religion : Islam

III. Educational Details
      1. 2002 – 2008 State Elementary School Bunton 01
      2. 2008 – 2011 State Junior High School 01 Adipala
      3. 2011 – 2014 State Senior High School 01 Maos

IV. Organization Experience
      1. 2010 – 2011 Pratami at PRAMUKA State Junior High School 01 Adipala
      2. 2010 – 2011 Deputy II at OSIS State Junior High School 01 Adipala
      3. 2011 – 2012 Secretary I at OSIS State Senior High School 01 Maos
      4. 2012 – 2013 Chairwomen II at OSIS State Senior High School 01 Maos

V. Training and Talkshow
     1. 09th December 2012 Authorship Training at Iqro Club Cilacap
     2. 27th June 2013 Talkshow “Berbagi Sukses Inspirasi” at BSI

VI. Achievement
      1. 2012 The 2nd Winner of Basketball in POPDA SENI SMA Cilacap Regency
      2. 2012 Participant of “Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG)” Cilacap Regency
      3. 2010 The 3rd Winner of Basketball in POPDA SENI SMP Cilacap Regency
      4. 2009 The 1st Winner of Girl Scout in “HUT Pramuka ke-48”
      5. 2006 The 2nd Winner of Traditonal Dance in POPDA and PEKAN SENI SD Subdistrict Adipala

VII. Culture Interest and Physical Recreation
        Music, writting, reading, and basketball.