Saturday, June 2, 2018

Pendakian Pertama ke Gunung Merbabu via Selo

Saturday, June 02, 2018
Gunung Merapi dilihat dari Sabana 1 
Pada tulisan ini empunya blog memutuskan untuk menulis sedikit pengalaman naik gunung beberapa bulan lalu (tapi tepatnya tahun lalu ternyata). Sebetulnya setelah turun dari Merbabu aku sudah ancang-ancang nulis tentang ini, tapi apa daya semua itu masih wacana. Buat yang penasaran soal pendakian ke Gunung Merbabu via Selo, silakan baca kisahku sampai tuntas hihi.

Aku baru bisa merasakan pendakian pertamaku setelah berabad-abad lamanya penasaran soal naik gunung. Sebelum memakai toga, aku sudah membuat list di otakku untuk bisa merasakan menjadi seorang pendaki. Yah, walaupun sebelumnya pandaganku tentang pendaki kesannya kurang menyenangkan huhu. Kira-kira seperti ini, "Kok mau ndaki gunung? Capek-capek gitu", atau "Yah kalo ndaki bakal siap ngga mandi, ribet, tidurnya bakal ngga senyaman di kasur," dan sebagainya. Entah ada angin apa waktu itu, tiba-tiba rasa penasaranku lebih besar dari pada hal-hal yang aku khawatirkan tadi. Setelah melakukan pendakian, aku mendapat banyak sekali moral value yang bisa dipelajari. Terkhusus bagi para pendaki yang punya tujuan. 

Langsung saja guys, tanggal 5 November 2017 aku pertama kali mendaki gunung dengan tujuan pendakian ke Gunung Merbabu. Puncak tertinggi Gunung Merbabu yaitu di Puncak Kenteng Songo yang mencapai 3.142 Mdpl, sedangkan dua puncak yang lainnya Puncak Syarif (3.119 Mdpl) dan Puncak Tianggulasi (3169 Mdpl). Perencanaan pendakian waktu itu lumayan singkat, kurang lebih hanya satu minggu tanpa latihan fisik sama sekali. Yang aku siapkan hanya makanan dan snack tanpa bawa baju ganti, pikirku waktu itu "bakal ngga mandi nih, ngapaian bawa ganti". Itu pemikiran pendaki cupu yang ternyata sedikit membawa petaka hehe. Soalnya aku mendaki di musim hujan dan ternyata kehujanan waktu turun, alhasil bingung sendiri dan sampai pulang masih pakai baju yang sedikit basah. 

Pendakian dimulai dari perjalanan Jogja - Magelang, waktu itu aku naik motor jadi lebih praktis. Sekitar pukul 08.30 aku otw dari Jogja dengan diselingi acara ban motor bocor. (Alhamdulillah yah perjalanan jadi semakin yahud). Setelah Isho (istirahat shalat) aku lanjut ke basecamp pendakian dan sampai  sekitar pukul 13.00. Di basecamp hanya memakirkan motor dan tak lama langsung memulai pendakian via Gancik, Selo. Di pendakian pertama ini, aku mendaki bersama yang sudah pro (aseek). Menuju Gancik Hill Top adalah salah satu yang bikin ngos-ngosan dan rasanya bikin mual-mual seperti ibu mengandung. Kepala rasanya kleyengan dan pandangan mulai kabur. Di rute itu aku banyak sekali istirahat dan stop di jalan. Walaupun jalan menuju Gancik Hill Top sudah dicor dan mulus, tapi kemiringan pendakian lumayan parah dan menguras tenaga. 

Setelah acara mual-mualnya selesai dan aku masih sanggup, aku melanjutkan pendakian. Ternyata setelah sampai di Gancik Hill Top, di sana ada pangkalan ojek, hmm super sekali -.- (Tapi sensasi mendakinya apa kalo jadinya naik ojek, yang ada sensasi mau ke pasar ya sist). Ojek yang ada hanya sampai di rute yang landai dan lumayan bahaya kalau beroperasi di medan yang nggronjal. Untuk jalur pendakian via Selo sendiri sangat direkomendasikan untuk pendaki pemula karena jalurnya banyak bonusnya (landai). FYI, Gancik Hill Top itu semacam tempat rekreasi, aku lihat banyak pengunjung yang ber-selfie atau sekadar menikmati suasana di Puncak Gancik.

Setelah medan menuju Gancik berhasil dilewati, aku melewati jalur yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Sepanjang perjalanan aku menjumpai beberapa pendaki, baik yang turun maupun yang sama-sama naik. Mereka ramah dan saling tegur sapa kalau berpapasan atau saat menyalip rombongan. Syukurlah, sesama teman seperdakian bisa dimintai bantuan kalau ada apa-apa, minimal saat persediaan minum habis dan dehidrasi berat. Perlu diingat juga pendakian via Selo itu tidak ada mata air, jadi bisa dipersiapkan persediaan air sesuai kebutuhan.

Di hutan pinus menuju Pos 1 (Dok Malang) medannya tidak terlalu ekstrim dan bisa dibilang mudah. Setelah 2 jam berjalan, aku sampai di Pos 1 kemudian  beristirahat sebentar. Di sana tidak ada bangunan sama sekali, yang ada hanya plang tanda Pos 1. Lokasi di Pos 1 juga lumayan luas, sudah bisa dibangun beberapa tenda hehe. "Yang bener aja sist? baru Pos 1 lho". Aku pun melanjutkan pendakian menuju Pos 2.

Penampakan Pos 1 (Dok Malang)
Dari Pos 1 ke Pos 2 jalurnya dikelilingi semak-semak yang lumayan tinggi, sebahu orang dewasa. Medannya sedikit landai tetapi juga menanjak, yang penting tetap hati-hati. Saat itu aku merasa kakiku otomatis jalan sendiri karena reflek. Waktu yang ditempuh sampai di Pos 2 (Pandean) sekitar 60 menit. 

Selama perjalanan tak jarang aku menjumpai kabut tebal, yaitu waktu di Bukit Teletubis. Disana aku bertemu 2 orang pendaki yang turun hanya memakai celana panjang dan sandal jepit. Padahal saat itu dinginnya minta ampun. Awalnya aku bisa menikamti beberapa vegetasi di sepanjang pendakian tapi seketika tertutup kabut, jarak pandang hanya sekitar 5 meter.

Bukit Teletubis Mulai Berkabut

Full Kabut
Setelah ujian Pos 1 dan Pos 2 selesai, aku menuju Pos 3 (Batu Tulis) dengan medan naik turun melewati bukit. Lokasi di Pos 3 lebih luas dari pada Pos 1 dan Pos 2, di sana banyak sekali tenda sudah terpasang. Ternyata di Pos 3 juga ada beberapa WC Umum, hmm nice ya! Tapi aku tak sempat mampir dan terus jalan menuju Sabana 1.

Track tersadis sepanjangan hayat selama pendakian via Selo adalah dari Pos 3 ke Sabana I. Medan dengan kemiringan cukup parah sungguh menantang bagi kalian yang suka tantangan. Banyak bebatuan dan bekas jalan air saat hujan semakin membuat susah dilewati. Di sini pendaki pun harus ekstra hati-hati. Dengan medan seperti itu aku melewatinya sekitar pukul 19.00 dan hari sudah mulai gelap. Ada teman pendaki lain yang meminjam powerbank-ku (ada lampunya) untuk memantau temannya dari atas. Sementara aku masih bersyukur karena cuaca saat itu bisa dibilang bagus, tanpa turun hujan. Beberapa bongkahan batu sepanjang track membuatku bingung harus menapak kaki dimana dan lewat mana dahulu. Karena salah menapak saja bisa terpeleset atau tergelincir dan jatuh ke bawah. Beberapa kali aku menginjak kerikil yang masuk ke sandal (pinjaman), jadi aku lebih menyarankan pakai sepatu gunung dari pada sandal gunung hehe.

Pertanyaan seperti "Nyampe kapan sh?", atau "Masih jauh ngga?" sudah jadi makanan tiap menitnya wkwk. Sebagai pendaki pemula, aku percaya-percaya aja kalau ada yang bilang "Bentar lagi", terus begitu terjadi berulang-ulang. Kemudian sampailah aku di Sabana 1, setelah melewati tanjakan super ekstrim, badan sudah sedemikian rupa (tapi masih utuh), aku pun beristirahat sekalian membangun tenda. Di Sabana 1 tanahnya dominan datar dan luas, sehingga banyak pendaki lain yang memasang tenda. Cuaca pada malam itu awalnya bagus tapi setelah beberapa jam mulai gerimis dan hujan. Berdoalah tenda tidak terbawa angin :)) Karena sampai di sana sudah malam, tak banyak yang bisa diabadikan.

Pagi harinya cuaca mulai bagus. Sejak jam 03.00 AM sudah banyak yang summit attack (mendaki menuju puncak), tapi ternyata aku terlalu lelap dan tak melanjutkan ke puncak huhu. Aku mulai memasak mie instan dan menikmati pemandangan Gunung Merapi dari Sabana 1 yang cantiknya kebangetan. Liat juga indahnnya sunrise dari Merbabu.

Sunrise 1 

Sunrise 2
Tenda di Sabana 1




Sekitar pukul 14.30 aku turun. Saat turun aku lebih banyak main plosotan karena memang jalanan licin dan banyak bekas plosotan wkwk. Meskipun turun gunung itu kesannya lebih mudah, tetap hati-hati untuk menjaga keamanan dan jangan lari kalau belum kenal medan. Tracking pole (tongkat hiking) sangat dibutuhkan saat turun, bisa digunakan untuk menahan badan saat terlalu cepat berjalan, mengerem di medan tertentu, atau saat akan berhenti. 

Perjalanan menuruni gunung tidak begitu terasa melelahkan seperti saat mendaki.  Mendaki gunung sangat melatih fisik dan menguji kesabaran. Tipe orang yang suka mengeluh atau tidak, akan terlihat jelas kalau mendaki bersama hehe. 


Setelah turun dari Sabana 1
Foto di atas terlihat jalur pendakian dari Pos 3 ke Sabana 1 (fokus ke tangan kiriku). Pos 3 itu posisinya di bawah bukit tempatku foto (bisa dilihat di ujung ke Sabana 1 sudah terlihat kabut tebal)

Saat sudah turun dari pendakian, kita bisa melihat ke atas dan melihat track yang sudah dilewati. Saat aku bisa menatap jalur dari Pos 3 ke Sabana 1, aku sadar "Oh, ternyata aku bisa!".  

Setelah itu aku langsung menuju basecamp lagi tanpa fafifu untuk segera berkemas. Waktu yang ditempuh untuk sampai ke basecamp sekitar 4 jam dengan cuaca hujan lebat setelah Pos 1. Saat dari Gancik harus hati-hati, dan yang paling aku khawatirkan adalah longsor, tapi tenang saja semuanya aman. Kemudian aku sampai basecamp sekitar pukul 17.00 dan kembali ke Jogja. 

Sekali saja mendaki, aku sudah dibuat penasaran tentang bagaimana rasanya mendaki gunung yang lain. Rasa lelah naik turun gunung bukan jadi alasan merasa kapok. Setelah sampai di atas (red: puncak/mendekati puncak wkwk) dengan segala pencapaian dan lengkap dengan prosesnya, cukup membuatku tersenyum dan lebih mengapresiasi diri sendiri. Kalau mau maju, 'hidup' memang butuh suatu pencapaian. Sadar atau tidak, kita akan termotivasi untuk berusaha lebih (aseek).

Setelah pendakian pertama berhasil (walaupun hanya sampai Sabana 1) aku mencoba pendakian kedua sekitar satu bulan setelahnya. Waktu itu aku ke Gunung Prau via Kalilembu, tunggu tulisan selanjutnya ya hihi.

Sayonara Merbabu...




Wednesday, May 2, 2018

Thumbs Down for You if Say That Indonesia is Nothing!

Wednesday, May 02, 2018
Labuan Bajo, NTT (Taken by Imam Hanafi)

Membangun fisrt impression tentang suatu hal bisa dibilang cukup penting. Orang akan suka atau tidak, bisa jadi karena first impression yang kita bawa. Entah selanjutnya akan bagaimana terserah orangnya. Bukan hanya first impression tentang orang, makanan atau tempat juga bisa, apa lagi tentang sebuah negara. Ya, sebenarnya aku pernah mendapat first impression yang buruk pada waktu itu.

Belakangan ini aku bercerita tentang cantiknya semesta, yaitu tentang keindahan maritim Indonesia. Kesempatan ke NTT waktu itu benar-benar membuka mata bahwa Indonesia itu luar biasa menawan. Buat yang sering bilang kalau Indonesia is  nothing, apa lagi yang suka memojokkan atau menjelekkan Indonesia "Thumbs down for you!" Parahnya lagi kalau itu warganya sendiri. Jadi sebenarnya simple, kalau sudah dirasa tidak suka, pasti cenderung lebih banyak menyumbang komentar negatif dan malas cari solusinya. This is just my opinion, kita akan susah memperbaiki suatu keadaan kalau kita kurang suka pada sesuatu (kecuali dipaksa). Jadi cintai dulu. Asek. Memang sih semua itu sama sekali tidak ada yang sempurna. Indonesia bisa dibilang tidak bebas dari masalah, tapi cobalah jadikan masalah yang ada bukan sebagai hujatan semata tapi jadikan sebagai sumbangsih kita untuk berikan solusinya. Juga perlu membedakan antara mana hujatan dan mana kritikan. 

Sebenarnya tinggal dari sudut pandang mana kita melihat Indonesia, bisa dari kekayaan alamnya, budaya, politik, sosial, ataupun yang lainnya. Dimana kesemuanya itu ada plus-minus nya. Tapi jangan sampai minus-nya buat kita tutup mata bahwa Indonesia juga banyak plus-nya guys. This is not related with yellow card for our father yes. hehe. Soalnya aku juga kurang tahu detail permasalahannya seperti apa. Kita ambil positifnya saja. O.K.

Sebenarnya semua itu based on my experience. Dimana waktu SMP aku sering dicekoki tentang sisi buruk dari Indonesia, tepatnya waktu pelajaran IPS Sejarah. Walaupun masih usia bocah pada waktu itu, sebenarnya aku mikir juga. Kok begini ya! Dan itu banar-benar berpengaruh ke pola pikirku dan bagaimana aku memandang Indonesia pada saat itu. Hmm.

Menyoal keindahan maritim Indonesia, selama Ekspedisi Nusantara Jaya aku dapat kesempatan menikmati sejuknya angin di Kawasan Taman Nasional Komodo. Dan membuatku lebih dekat dengan Indonesia. Mungkin caraku perpendapat saat ini terlalu tendensi pada keindahan tanah timur yang begitu memanjakan mata. Aku hanya ingin menyampaikan 'kenali Indonesia lebih jauh', dari segala macam sisinya. Buat apa kalau sudah kenal? Biar makin sayang, ehh. Ya pasti kalian sudah tahu jawabannya.

Sedikit flashback, aku sempat dapat kelas dengan dosen yang menyampaikan materi dengan semangat, aku masih ingat beliau menyampaikan dengan sedikit menggebu-gebu. Saat itu beliau menjabat sebagai Kasubdit Jiandik Ditjen AAU, aku juga kurang tahu kok beliau bisa mengajar juga. Mungkin ini akan kedengaran lebay, tapi waktu mata kuliah Kewarganegaraan oleh beliau, aku merasa lebih semangat dan lebih hidup sebagai WNI. Kalau kisah ini berkebalikan waktu aku masih di bangku SMP saat pelajaran Sejarah. Sepertinya perlu lebih banyak lagi orang-orang yang mencintai bangsanya sendiri. :)

Ohya, kalian tahu GNFI? Good News From Indonesia. Aku suka, ini salah satu platform yang aktif menyebarkan Kabar Baik di Indonesia setelah negeri ini hampir tenggelam oleh berita buruk. Sebenarnya apa sih pengaruh berita buruk yang terus beredar? Silakan jawab sendiri ya kakak. Sebenarnya bad news juga perlu, tapi jangan terlalu berlebihan. Karena banyak sisi positif lainnya yang perlu kita tahu. Yuhuy. 

Aku menulis ini sebenarnya karena terlalu banyak orang yang nyinyir tentang Indonesia yang dibilang nothing. Terlalu men-judge sesuatu yang tidak perlu. Tapi aku juga tidak ingin muluk-muluk, karena aku sadar aku siapa dan kapasitasku bagaimana. Hanya seorang blogger yang ingin memberikan konten positif, karena ini yang aku suka dan yang aku bisa.

Monday, April 30, 2018

Mencoba Jalur Laut dengan Kapal Ferry

Monday, April 30, 2018

Sebelum menempuh perjalanan, pasti kita menentukan dulu akan lewat jalur darat, jalur laut, atau jalur udara. Yap! Kali ini dalam perjalanan ke tanah timur, saya dapat kesempatan mencoba jalur laut. Ini adalah kali pertama saya menempuh jalur laut dengan sensasi perjalanan yang berbeda. 

Perjalanan melalui jalur laut berawal dari keikutsertaan saya dalam Ekspedisi Nusantara Jaya yang diadakan oleh Kementrian Koordinator Kemaritiman tahun lalu. Sebelumnya, seumur hidup saya belum pernah naik kapal, paling naik perahu kapasitas 10 orang waktu menyeberang ke Pulau Nusakambangan, Cilacap. Kali ini saya telah merasakan #AsiknyaNaikFerry lewat dua jalur, yaitu Banyuwangi – Bali dan Labuan Bajo (NTT) – Sape (NTB).

Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) – Pelabuhan Gilimanuk (Bali)
Perjalanan ini diawali dengan jalur darat dari Yogyakarta ke Banyuwangi dengan menaiki kereta Sri Tanjung. Perjalanan cukup lama sekitar 13 jam, dari pukul 7 pagi dan sampai di Stasiun Banyuwangi Baru sekitar pukul setengah sepuluh malam. Waktu itu meeting point bersama tim ekspedisi dilaksanakan di Bali, jadi saya harus sampai dulu di sana. Perjalanan dari Yogyakarta ke Banyuwangi cukup melelahkan tapi tak menyurutkan semangat saya untuk segera sampai di Pelabuhan Ketapang. Pada saat itu saya berangkat sendiri (masih jomblo), syukurlah saya bertemu dengan keluarga yang sama-sama akan menyebrang ke Bali.
Pelabuhan Ketapang (reportasenews.com)

“Kapal Ferry!”, itu yang terlintas di kepala saya setelah sampai di Pelabuhan Ketapang. Saya mulai cemas soal jadwal keberangkatan kapal untuk penyebrangan ke Bali. Tapi ternyata Kapal Ferry dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk buka 24 jam. Saat saya ikut bersama keluarga yang sama-sama akan ke Bali, saya tambah kurang enak karena dibayarkan sekalian tiket penyebrangan. Ternyata mereka cukup cemas karena saya sendirian dan membawa ransel 45L dengan kardus isi donasi yang saya tenteng. Oke skip! :D

Suasana di Pelabuhan Ketapang (trevel.detik.com)
Naik Kapal Ferry begitu mengesankan bagi saya. Kesan pertama yaitu saya melihat banyak truk dan kendaraan berat di lambung kapal. Kemudian saya menuju deck penumpang yaitu satu deck di atasnya. Saya melihat sekeliling dan suasana di Kapal Ferry terlihat sepi. Awalnya aktivitas yang bisa saya lakukan hanya mengobrol, kemudian saya mengajak dua teman lain yang baru saya kenal ke rooftop untuk melihat pemandangan malam dari atas kapal. Gemerlap lampu dari kejauhan berangsur-angsur mengecil menjadi titik cahaya. Indahnya malam hari di atas kapal sedikit mengobati lelah setelah seharian di perjalanan. #AsiknyaNaikFerry baru saya rasakan pertama kali pada penyebrangan ke Bali waktu itu. Di rooftop Kapal Ferry membuat saya enggan turun kecuali karena dinginnya angin malam.

Waktu yang ditempuh selama penyebrangan sekitar 45 menit dengan jarak tempuh 60 KM. Hanya Rp6.500,00 saya sudah sampai di Bali dengan Kapal Ferry. Ketje kan? ASDP Indonesia Ferry juga sangat memperhatikan akomodasi penumpang, fasilitas seperti kantin dan toilet disediakan dengan rapih.  

Lama penyebrangan dari Selat Bali begitu singkat, jadi saya tidak terlalu lama melihat-lihat sekitar kapal. Saya hanya menunggu di deck penumpang hingga sampai di Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul setengah 12 malam dan dianjutkan naik bus ke Terminal Mengwi. Saya tiba di Terminal Mengwi sekitar pukul 3 dini hari. Semua itu sama sekali tidak membuat saya kapok. Capek? Iya lumayan tapi seru luar biasa.hehe

Pelabuhan Labuan Bajo (NTT) – Pelabuhan Sape Timur (NTB)
Setelah ekspedisi di Flores selama kurang lebih 12 hari, saya bersama tim kembali pulang dengan menempuh jalur laut. Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Labuan Bajo menuju Pelabuhan Sape Timur. Kami menaiki Kapal Ferry selama 6 jam dengan harga tiket Rp60.000,00. Pembelian tiket Kapal Ferry sangat mudah, hanya menyiapkan kartu identitas dan mendatangi loket petugas ASDP Indonesia Fery di dekat pintu masuk pelabuhan. Pelabuhan Labuan Bajo begitu ramai dan tertata rapih, banyak kapal dan perahu kecil berlabuh di pelabuan yang saya rasa cukup besar itu.

Suasana Pelabuhan Labuan Bajo (indonesiaferry.co.id)
Setelah saya berada di kapal, suasananya tidak begitu berbeda dengan penyebrangan waktu ke Bali. Hanya saja saya bisa lebih lama mengeksplor kapal dengan sekadar jalan-jalan dan membeli jajanan di kapal. Kantin disediakan di tempat yang stategis sehingga bagi orang yang mudah lapar seperti saya bisa langsung meluncur ke kantin. Tapi ada juga yang menjual makanan di kapal, seperti nasi bungkus, sate, buah-buahan, dan minuman. Kesan saya soal makanan di kapal sangat terjamin, tapi jangan heran kalau harganya lebih mahal dari biasanya.

Selepas eskpedisi saya bersama tim menghabiskan waktu dengan bermain uno, mengkopi hasil dokumentasi kegiatan, mengobrol, dan tentu saja ada yang tidur. Karena saya mulai kehabisan baju dan masih ada baju yang basah, saya menuju rooftop untuk menjemur baju. Alasan pertama memang hanya menjemur baju, tetapi saya terlampau nyaman dengan suasan di rooftop sambil menikmati lautan lepas. Saya melihat ada beberapa awak kapal dan beberapa penumpang yang sekadar duduk-duduk santai.

Rooftop Kapal Ferry (flowarikar.blogspot.com)
Pemandangan Laut Lepas (Taken by Imam Hanafi)

Bagi yang beragama muslim telah disediakan tempat beribadah di kapal. Tempatnya sangat nyaman dengan dilengkapi AC dan peralatan ibadah. Naik Kapal Ferry makin asyik dengan segala kebutuhan penumpang yang disediakan oleh ASDP Indonesia Ferry.

#AsyiknyaNaikFery membuat saya lupa kalau kapal akan berlabuh dan sampai di Pelabuhan Sape Timur. Setelah kapal berlabuh, antrian penumpang yang akan turun lumayan berjejalan dan harus hati-hati kalau barang bawaan tertinggal atau tertukar. Selanjutnya saya naik bus selama sekitar 2 jam menuju Pelabuhan Sape Barat untuk menaiki kapal yang lebih besar hingga sampai di Pelabuhan Benoa, Bali. Pengalaman naik Kapal Ferry sungguh mengesankan bagi saya, merasakan sensasi lain dan lebih bersahabat dengan lautan.

Harga tiket Kapal Ferry begitu terjangkau, sehingga tidak perlu khawatir akan merogoh kocek terlalu dalam. Recommended dicoba, apa lagi bagi yang suka jalan-jalan. Sebelum melakuan perjalanan dengan kapal, ada baiknya mengecek dahulu jadwal kapal. Karena ada beberapa kapal yang tidak beroperasi setiap hari. ASDP Indonesia Fery sudah menyediakan reservasi online di www.indonesiaferry.co.id. Sudah sangat dimanjakan bukan? Kita tinggal masukkan saja provinsi asal keberangkatan dan tujuannya. Setelah itu akan muncul detail jadwal dan beberapa hal yang harus diperhatikan calon penumpang. Untuk penumpang dengan kendaraan dan tanpa kendaraan juga sudah terdapat rincian harganya. Jadi tidak perlu khawatir akan over budgeting, karena rincian pengeluaran sudah jelas. Kalau kurang jelas, silakan lihat screenshoot pemesanan tiket Kapal Ferry di bawah ini. Happy traveling with Ferry!


 



Yuk naik Kapal Ferry! Tunggu apa lagi. :)

Saturday, February 3, 2018

Eksotisnya Pulau Padar, Labuan Bajo

Saturday, February 03, 2018
Sebagai traveler pemula, aku mencoba melancong ke beberapa tempat yang perlu kusinggahi. Kali ini bersama tim Ekspedis Nusantara Jaya Tim Bali, aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah timur, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Budaya, bahasa, dan suasana baru begitu terasa. 

Labuan Bajo dengan segala keindahan surgawinya terhampar sejauh mata memandang. Dari beberapa tempat, salah satu destinasi wisata yang paling dicari adalah Pulau Padar. Benar sekali, waktu itu aku bersama tim ekspedisi sempat mengintip indahnya pemandangan di puncak Pulau Padar. Kalau dari pengalamanku, Pulau Padar masuk dalam list teratas tempat tereksotis setelah sunset atau sunrise di muka bumi ini. Aseek.

Lokasi pulau ini lumayan jauh dari pusat kota di Labuan Bajo, perlu waktu sekitar 3,5 jam naik kapal untuk sampai. Wah lama juga ya? Pasti jauh. Ah takut mabok laut! Tunggu dulu, buat yang sukanya tidur kalau perjalanan, kali ini bakal rugi banget. Soalnya selama perjalanan ke Pulau Padar kita bisa terkagum-kagum oleh luar biasa indahnya ciptaan-Nya. Ini juga awalnya aku berniat tidur sekadar untuk saving energy, tapi memandang laut lepas sambil mengobrol di ujung perahu bisa jadi pilihan untuk dicoba. Kalau beruntung kita bisa lihat ikan terbang, aku juga sempat lihat ada burung bangau, pulau-pulau kecil di kanan-kiri, garis pantai dari kejauhan, dan masih banyak lagi. Untuk perahu yang aku tumpangi berkapasitas 10 orang. Harga sewa perahu terjangkau dari pada pilihan yang lain, jadi tidak khawatir akan over budgeting.

Perjalanan ke Pulau Padar
Sampai di Pulau Padar, banyak sekali wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing. Pantai di Pulau Padar berpasir putih dan sedikit bercampur karang juga bebatuan. Airnya sangat jernih dan rasanya masih asin. huehe. Rasanya ingin aku bawa botol untuk menampung bahan isi akuarium di rumah.

Aku bersama rombongan sampai di Pulau Padar sekitar pukul 10.00. Lumayan siang dan memang terik matahari sedang tidak jinak sampai-sampai membakar kulit. Meski begitu, kami tetap memulai trekking dengan membawa perbekalan seadanya, minimal air minum. Trekking ke puncak lumayan curam, tapi untuk awal-awal sudah dibuat tangga. Aku sempat menghitung anak tangganya, tapi lupa jumlahnya hehe. Pastinya lebih dari 300an lah, setelah itu silakan buat anak tangga sendiri karena setelah anak tangga terakhir, jalanan terjal dan berdebu.

Sekitar 45 menit dengan kecepatan biasa, aku sudah sampai di puncak. Jalanan yang berbatu dan sedikit curam tidak terlalu menjadi hambatan. Tenang saja, semua akan terbayarkan. Sampai menyaksikan sendiri tiga lingkar pantai yang terpisahkan oleh bukit. Bukit-bukit yang berjajar tidak beraturan terlihat seperti miniatur yang begitu antik. Untung saja angin di Pulau Padar begitu terasa, jadi sedikit banyak bisa mengurangi teriknya matahari. Ini hasil foto di Puncak Padar. Check it out! 

Puncak Pulau Padar, taken by @imamhanafi_han
I'm free :D taken by Pemandu
Puncak Pulau Padar recommended banget jadi spot foto dengan background-nya yang menawan. Ini untuk siapa saja yang suka foto-foto, mau prewedding, honeymoon, atau apa saja O.K. Tapi sabar saja kalau spot-spot tertentu bisa antri, terkadang memang ramai dan hasilnya kurang bagus kalau dipaksakan hehe. Selama trekking, kami ditemani seorang pemandu. Ini juga karena kami baru pertama kali mendaki Pulau Padar. Pemandu akan sangat membantu, memberi petunjuk jalan yang aman juga bisa dimintai jadi fotografer hehe.

Buat yang suka pemandangan romantis, recommended banget sampai di Puncak Padar di waktu  sunset atau sunrise. Kalau kami, bisa dibilang persiapannya kurang. Jadi baru sampai siang hari, dan itu kami masih lanjut ke Pulau Komodo dan Pink Beach. Semoga saja dua lokasi ini ditulis di postingan selanjutnya ya hehe.
One day trip yang super keren!

How to get there
Kalau aku via Pelabuhan Labuan Bajo. Perjalanan dari Desa Nanganae (basecamp ekspedisi) menuju pelabuhan sekitar 1 jam. Setelah itu kami sewa satu perahu kapasitas 10 orang dengan harga sekitar 1,5 juta. Itu sudah sewa seharian dengan trip Pulau Padar, Pulau Komodo, dan Pink Beach. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena paling memungkinkan untuk trip satu hari dengan lokasi yang saling berdekatan. Setelah itu perjalanan sekitar 3,5 jam ke Pulau Padar, lanjut sekitar 1 jam ke Pulau Komodo, dan lanjut lagi sekitar 45 menit ke Pink Beach. Itu lokasi trip lengkapnya dengan masing-masing estimasi waktunya.

Tips
- Bawa bekal dan air minum secukupnya, di Pulau Padar tidak ada orang jualan :p
- Jangan lupa bawa masker, topi, dan pakai sunblock kalau perlu
- Pakai sepatu atau sandal yang nyaman dipakai. Diusahakan jangan pakai yang berhak ya apa lagi salah kostum, intinya pakai baju yang enak dipakai
- Camera untuk mengabadikan momen. Jangan lupa bawa powerbank atau batrai camera kalau tiba-tiba lowbat.

Happy traveling! ;)


Wednesday, August 30, 2017

Teruntuk Cik-ku

Wednesday, August 30, 2017
Saat kusampaikan sapa, kau jawab sapa. Saat kutanya kabar, kau jawab kabar. Saat kutanya apa saja, kau jawab apa saja. Tak perlu ada suatu yang mengada-ada, semuanya apa adanya. Dan ternyata kumulai tersadar ternyata kita berkawan. Berkawan dengan sosok sepertimu, seorang yang selalu energik dalam setiap kesempatan. Rupanya udara sejuk Selatpanjang salah satu daerah di Meranti, mampu membuatmu selalu semangat dan buat semangat yang lain.

Tulisan ini aku dedikasikan untuk mu, kawanku, sahabat, mentor, seorang yang mampu ciptakan cerita manis di kota istimewa ini, Yogyakarta. Kau adalah Rismanidar, manusia yang bernafas dengan paru-paru sama sepertiku, sama-sama punya 24 jam sehari, tetapi berasal dari daerah yang berbeda. Rismanidar, gadis asal Meranti yang mempunya mimpi besar, juga memiliki visi yang sama untuk terus maju. Itu lah salah satu alasan kenapa kita dekat. Sosok yang terbawa takdirnya hingga sampai di kota ini, salah satunya untuk bertemu denganku. Jika kita tanya, tak pernah ada yang menyangka kita akan bertemu dengan siapa dan akan melewati apa dengannya. Seperti kau bilang, kau tak pernah menyangka akan kuliah di kota ini, kota yang orang bilang penuh kenangan di setiap sudutnya. Dan aku percaya itu, karena kau juga salah satu pemasok kenangan itu. Menambah sesaknya kenangan yang teringgal di kota ini, terkhusus semua kenangan di kampus kerakyatan yang sebentar lagi kau tinggalkan bersama mimpi-mimpimu.

Berawal dari salah satu konferensi internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, alam mulai bicara, pertemukanku dalam kesempatan yang luar biasa. Kalau boleh sedikit bercerita, saat itu aku ke bagian akademik kampus untuk mengurus lembar pengesahan permohonan bantuan dana, karena dirasa konferensi yang kuikuti sama dengannya, aku diberi berkas milik cik Risma. Saat itu juga aku tahu, ternyata kami berjodoh. Singkat cerita aku memulai menyapa lewat sosial media dan cerita berawal dari itu. Tapi ternyata kami sebelumnya tahu dalam diam, kami berada di suatu program pelatihan kepemimpiman yang sama, SP2KM (Sahabat Percepatan Peningkatan Kepemimpinan Mahasiswa) program tahunan dari Direktorat Kemahasiswaan UGM.

Cik semoga suatu saat nanti kau bisa bekerja di BI (Bank Indonesia) seperti harapan yang kau sampaikan malam itu. Semangatmu pantas diacungi empat ibu jari, barangkali aku pinjam ibu jari yang lain kalau boleh. Mau tukang becak, tukang parkir, siapa saja kau semangati. Setiap topik bisa jadi bahan diskusi yang renyah. Setiap peluang diambilnya, setiap saat selalu ramah dengan siapa saja. Aku belajar banyak dibuatnya. Dan ternyata sama-sama tiga tahun tinggal di Jogja, baru pertama kali foto di Jantung Yogyakarta, di depan Tugu Jogja. "Eh lewat sini aja ya, biar bisa lewat Tugu," kata ku saat menuju Jalan Malioboro. "Oh iya, sekalian foto di Tugu," katanya. "Oh iya iya, kamu udah pernah foto di Tugu cik?" tanyaku. "Belum, kamu?" tanyanya lagi. "Belum juga," lalu kita tertawa bersamaan menyibak ramainya jalanan kota Jogja.

Ingat ngga cik, kalau kita pernah sehari 3 kali makan di tempat yang sama demi terselesaikannya sebuah projek. Pondok cabe menjadi saksi. Kalau yang ini aku berharap waiter nya ngga pernah bosan sama kita. Kita beberapa kali juga ikut lomba, tapi beberapa kali juga ngga menang. hehe. Ini bukan soal kalah atau menang, tapi prosesnya telah berhasil buat kita naik kelas (upgrade diri). Coba kuingat lagi, disela-sela rutinitas padatnya perkuliahan kita pernah ke Salsabila Farm. Tak terlalu kecewa karena datang bukan pada musim buah, karena ternyata kita bisa juga makan buah naga sampe kenyang. Habis itu dilanjut ke Turi untuk berjumpa dengan sosok luar biasa pencipta bioetanol dari limbah salak.

Ohya, aku juga minta maaf cik, di hari besarmu, saat wisuda aku tak bisa bertemu. Dan satu hal lagi nih, kayaknya kau satu-satunya orang yang tahu harga dari pemberian yang aku kasih. Karena sialnya aku keceplosan, aku ceritakan gimana proses nawar harga waktu beli itu. haha. Sampe seengga penting itu cerita juga, dan juga pertanyaan ngga penting lainnya. Semisal, "Cik, kamu pernah suka sama orang ngga?", atau pertanyaan fundamental lainnya "Cik, apa sih life goal mu?", dan lain-lain-lain-lain hehe.

Cik, coba inget lagi. Kita hampir banget ketinggalan pesawat haha. Lari-lari di bandara, juga sempet dimarahin bule waktu di bagian imigrasi karena mohon ijin duluan. Hal itu cukuplah buat kita sadar bahwa on time itu penting banget. Waktu udah sampe di seat masing-masing, duduk bentar, dan pesawat langsung take off. Lega. Terus ngga sadar diri, bukannya bersyukur, malahan kita ketawa-tawa ngga jelas sambil ngatur nafas habis lari. Tingkat kepanikan waktu itu bisa dibilang lumayan akut. Coba aja kalau benar ketinggalan pesawat, bisa jadi gembel di negeri orang. 

Soal obrolan semalam di Jalan Malioboro, ternyata belum cukup juga. Makan bakso di pedagang kaki lima, makan ice cream, sekedar jalan-jalan saja sambil ngobrol dan menikmati romantisme suasana malam di Malioboro cukup buat kita bisa belajar satu sama lain. "Cik, kau lihat baik-baik. Bagian sini, itu, semua suasana di sini sebelum kamu besok balik ke Riau. Biar kau ingat kalau ini Malioboro," begitu kurang lebih kataku sambil terus jalan. Tak cuma Malioboro saja, kuharap kau juga akan mengingatku, tak lupa kalau aku adalah Destri Karlina, seorang yang kadang suka bilang "so inspiring, u*ch (mencoba mengurangi ini setelah tahu artinya)" di kolom komentar atau pun saat chatting. Seperti tanah yang merindukan hujan, selalu berharap dia datang untuk menyuburkan. Tunggu kedatanganku, doakan aku jadi orang kaya biar bisa beli tiket pesawat ke Riau hehe. Empat jam berlayar, sampai di Tanjung Buton, lanjut ke kampung halamanmu. Entah dimana, nanti kutanyakan lagi ya alamatnya hehe.

Teruntuk kawanku, kudoakan semoga kau segera jadi orang sukses, kembangin daerahmu, buat perpustakaan di desa, mengabdi di Kabupaten Meranti, lanjut study master di Prancis, dan bagi-bagi kelak suskesnya :D. Ohya satu lagi, kutunggu bukumu yang katamu bakal kautulis waktu udah S2. Doakan aku juga cik, supaya nanti kita bisa berbagi kisah masing-masing di kesempatan mendatang.

Cik, dengan ini kau berarti salah satu orang yang berkesan in my life. Terabadikan di blog pribadiku, tanpa sensor dan jelas kusebutkan nama hehe. Karena beberapa orang yang berkesan lainnya hanya kutulis dan kusimpan di folder PC dengan berbagai alasan hihi. Dan sebenernya aku ngga mau keras-keras bilang ini, ingin bisik-bisik saja biar kau ngga bisa dengar. Karena pun aku tahu betul gimana ekspresimu kalau kau dipuji atau semacamnya haha.

Pesanku, aku ingin kau sehat selalu sampai kita bisa berjumpa lagi. Terima kasih kau sudah ajarkan aku untuk berani bermimpi, berjuang, dan tekun dalam berproses. Karena perihnya perjuangan ini belum seberapa. Jangan lupa kau bagikan ceritamu denganku, entah itu suka maupun duka aku akan tetap dengar. Terima kasih kebersamaannya cik. Maafkan juga kalau ada kilafku padamu ya cik. Terakhir, aku akan rindu logat melayumu.
Your cup of tea,
Destri Karlina

Yogyakarta, 29 Agustus 2017
17:50 WIB

Thursday, August 17, 2017

Deepest Motivation

Thursday, August 17, 2017
Selamat malam semuanya...
Alhamdulillah yah, masih diberi kesempatan buat ngetik hehe. Betul, segala sesuatu perlu disyukuri, bahkan nikmat sekecil apa pun ☺

Ijinkan aku bertanya yaa, ngga susah kok pertanyaannya. Pertanyaan: “Siapa yang percaya sama mimpi?” Hayo ngaku, siapa yang percaya? Percaya sih boleh percaya, tapi yang paling penting percaya sama yang di Atas ya. Karena bisa fatal banget kalau ngga percaya (krik krik).

Kenapa sih nanyain ginian? Jadi dulu aku pernah kepikiran buat ikut konferensi Internasional. Pernah juga kutulis di salah satu cabang life maping yang aku bikin buat nglengkapin suatu persyaratan di kegiatan. Jadi, aku tulis saja sebagai formalitas. Merealisasikannya saja rasa-rasanya belum sampai terfikirkan lagi, atau bahkan lupa.

Dan ternyata Dia mendengarnya. Tanggal 9-10 Agustus kemarin aku baru saja mempresentasikan paper di SMICBES dan SMICSOS. Aku saja baru menyadari kalau aku pernah menulisnya dalam salah satu daftar capaian yang aku tulis satu tahun lalu. Percaya ngga percaya alam bawah sadar kita merefleksikan dalam bentuk tindakan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. Dengan catatan itu memang benar-benar berasal dari deepest motivation.

Entah angin apa yang membawaku sampai pada titik itu. Norak? Absolutely yes. Soalnya aku ngga pernah presentasi ginian, apa lagi pake bahasa Inggris. Soalnya aku juga ngga jago-jago amat, bisa dibilang Bahasa Inggris pernah masuk daftar mata pelajaran yang ngga aku senangi saat masih di bangku sekolah. Tapi guys, tahu ngga sih Bahasa Inggris itu penting banget (jelas sudah tahu ya, aku aja yang cara berfikirnya kurang berkembang dari dulu-dulu). Ya begitu deh, motivasi buat belajar bahasa satu ini jadi terus digali (semoga istiqomah). 

Banyak hal yang aku pikirkan. Apa lagi menyoal question and answer session, khawatir kalau ngga ngerti dan ngga tahu mau jawab apa. Kalau presentasi in sha Allah bisa diantisipasi jauh-jauh hari sembari latihan dan mungkin sedikit hafalan hehe (jujur closing sama opening aku hafalan, kata tips yang aku tahu, kedua hal itu penting buat bikin presentasi berkesan :D)

Tapi perlu diingat juga kalau ingin naik kelas (meng-upgrade diri) siap-siap buat cintai prosesnya (sembari cintai doi juga ngga papa asalkan sudah halal ☺). Salah satu capaian ini mungkin juga tak seberapa dengan kawan-kawan yang lain, tapi bagiku menjadi sutau pengalaman yang berkesan (niatnya aku mau nulis yang part II). Bukan niat untuk membanding-bandingkan, karena setiap bunga punya masa mekarnya masing-masing. Begitu juga aku. Banyak sekali kawan yang sudah melakukan hal lain yang lebih berkesan, tapi pun ini juga salah satu pengalaman yang berkesan buatku sebagai salah satu kisah yang akan kuingat, atau bisa juga sebagai batu loncatan buat naik kelas lagi. Dan sebenernya bukan seberapa berkesan juga guys, tapi seberapa banyak kita bisa mengambil pelajaran dari suatu peristiwa (just my opinion). Misalkan saja, habis ikut konferensi ini aku makin termotivasi buat belajar lebih soal research. Apa lagi habis dapat kritik dan saran dari peserta lain, intinya kapsitas dan kemampuanku dalam hal ini masih banyak sekali yang perlu dibenahi. :D

Percayalah kalau kita bisa! Tulis saja apa yang kita maui, kita senangi, kita ingini. Semoga semua itu bisa menjadi nyata dengan usaha yang ikhlas. Sayangnya aku bukan seorang motivator yang andal, jadi boleh percaya boleh engga.

See ya!

Cialcap, 17 Agustus 2017
07:18
Dirgahayu Indonesia, 72 tahun :)

Saturday, July 22, 2017

Akar dan Niat

Saturday, July 22, 2017


Hallo hay...
Ketiga setelah Allah SWT dan orang tua, aku ucapkan terima kasih kepada YouTube. Baru aja aku dapat pelajaran berharga soal 'pengakuan' dari sosok Pahlawan Lingkugan Mbah Sadiman. Ini mungkin udah ngga up to date  banget ya, aku lihat dari YouTube di acara yang diadain tahun lalu. Jadi kurang lebih seperti ini, banyak sekali aku jumpai orang menggilai atas pengakuan. Entah itu saat mendapat menghargaan atau apa. Kebanyakan yang aku amati (maaf kalau salah), orang ingin sekali diakui bahwa dia itu A, B, C. Itu semua sama sekali ngga ada salahnya (menurutku), tapi sejatinya value apa sih yang bisa dibawa. Melakukan sesuatu untuk sebuah pengakuan? Kok kedengarannya jauh dari ihklas dan esensi dari apa yang dilakukan ya (#selfreminder). 

Guys, aku tanya. Sebenernya apa sih deep motivation temen-temen saat memulai sesuatu? Pasti jawabannya macam-macam. Semoga lillah ya. Dari yang aku tonton barusan di YouTube, menjadi sebuah penyadaran berharga bagi siapa saja. Mbah Sadiman, keren takjub. Mungkin juga si Mbah ngga pernah menyangka untuk mendapat pengakuan sebagai Pahlawan Lingkungan setelah mengabdikan dirinya selama kurang lebih 20 tahun, menghijaukan hutan. Dialog inspiratif dalam reality show tadi mengajarkan "tak perlu mengagungkan diri" sebagai yang ter- ter-. Sempat juga ngobol dengan senior, herannya bilang begini "Juara di suatu lomba atau event sebenernya bahaya des", kurang lebih begitu. Maksudnya bukan untuk membatasi presetasi ya hehe, jadi kalau sang juara itu jadi mengagungkan diri, disitu masalahnya. Boleh percaya diri, tapi di atas langit masih ada langit. Lebih bijaksananya, semakin menunduk saja seperti padi :)

Idaman untuk mencapai 'hasil', kadang bisa bikin bias proses yang harus kita lakukan (aku bicara soal ini karena aku pernah ngalamin). Intinya prosesnya dulu, ikhlas (ciye, aku masih belajar nak, ingetin kalo salah). Pencapaian itu bukan akhir segalanya, atau pun bukan trofi atau penghargaan yang bisa dipantengin tiap detik. Itu nol, yang penting sejauh mana value-nya. 

Aku mengaguminya, yang bekerja tanpa berbisik, baiknya cukup dia yang tahu, manfaatnya biar orang yang merasakan. Tak perlu pengakuan, karena alam dengan sendirinya yang akan mengungkap. Bekerja seperti "Akar", tak telihat tapi besar manfaatnya. Tak perlu menampakan diri demi kokohnya bagian yang lain untuk terus menjulang. Kongrit. Aku juga dapat pelajaran ini dari sosok teman yang sampai sekarang masih ingat namanya, hebat tapi hal itu tak pernah terucap olehnya, tak pernah mengungkap baiknya, cukup alam yang tahu. Akhirnya kunamainya sebagai 'akar yang lain'.

Sekian ya, entah berfaedah atau ngga. Ini aku tulis berdasarkan pendapatku sendiri dan cara pandangku terhadap suatu hal. Kalau salah mohon diluruskan :)

Pesannya kalau udah meroket jangan lupa ingat daratan. Kalau awal berkarya niatnya pingin diliat orang lain, mending murnikan niat dulu. Biar bisa dicatat sama Malaikan Rokib hehe. Kalo ngaji atau ibadah aja selalu diingetin buat niatnya mukhlislillah karena Allah, yang ini juga dong. Karena apa yang didapat akan sesuai apa yang diniatkan.

Ykt, 22 Juli 2017
09:56 AM

Pictsource: http://ae01.alicdn.com/

Friday, July 21, 2017

Mandiri

Friday, July 21, 2017


Guys, kamu tahu ngga hal yang paling menyakitkan dalam hidup ini, yang paling membuat diri merasa malu, dan kadang jadi mikir kok begini ya, aku bisa apa. Yaitu ketika menjadi beban bagi orang lain (mungkin itu hanya perasaanku saja).

Tapi kali ini aku bener-bener sadar, kita hidup ngga bisa terus bergantung pada orang lain. Semua ini berdalih ingin lebih mandiri. Bukan untuk menolak uluran tangan orang lain, karena orang lain sudah terlalu baik untuk terus mengulurkan tanggannya entah dalam hal apa pun dan dengan cara apa pun.

Kamu tahu, sebenarnya aku enggan untuk lebih banyak bercerita soal ini. Tapii.. hmm. 
Dan seketika ini juga aku sangat merindukannya (Bapak) di rumah. Entah kebaikan-kebaikan apa yang lupa aku ucapkan terima kasih, perhatian tersiratnya yang membuatku tersenyum kecil, tanggung jawabnya membesarkanku sampai sekarang, dan hal lainnya yang tak bisa kutuliskan panjang lebar.

Sedikit mellow tak pa ya. Sekalian buat penyadaran bagi kita semua, ini juga sekaligus self reminder buatku sebagai anak bungsu, yang katanya si bungsu itu manja. Tapi tenang saja, itu hanya mitos kok, kembali lagi pada pribadi masing-masing. Aku anak bungsu, iya, tapi aku…… (sudah lah).

Guys, hidup enak itu emang enak (ngga ada yang bilang hidup enak itu ngga enak). Kalau mau sukses tak jarang harus melewati fase perih dulu, iya perih, perih untuk mencapai apa yang ingin diraih. Bukan bermaksud juga sukses itu money oriented, hanya saja financial bisa jadi salah satu jalan yang merefleksikan kesuksesan. Tapi secara pribadi aku membenarkan, jika berkecukupan mau ibadah in sha Allah bisa lancar, mau umroh/haji in sha Allah cukup, apa lagi untuk sodakoh jariyah (MasyaAllah yang ini). Boleh ya motivasinya untuk ini (iya boleh banget, malah harus). Tinggal semua itu bakal digunain buat apa, foya-foya, hura-hura atau ngga. Karena semua itu ada pertanggungjawabannya.

Dan belakangan ini aku semakin berfikir realistis, liat peluang (ngga cuma diliat), ambil konsep, ide, sampaikan ke tim, dan mencoba realisasikan. Bismillah, kun fayakun jadi! Aamiin. Intinya aku semakin berfikir gimana caranya bertahan hidup pasca lulus nanti, bukan menyoal orang tua akan lepas tangan atau ngga, tapi ini soal pendewasaan guys (bukan bermaksud menggurui, #selfreminder). Aku juga masih belajar.

Jadi, doakan ya aku bisa jadi pengusaha hehe, walaupun lumayan telat terjun di bidang entrepreneur. Bukan masalah juga kalau ngga punya basic pendidikan formal (ane Rekam Medis). Kita bisa belajar dari mana aja, yang terpenting atmosfer buat mencapai itu bisa terjaga. Motivasi ternyata punya peranan besar buat belajar otodidak atau sekedar berdiskusi sama yang lebih tahu.

Intinya, intinya, intinya... Lakukan pada yang kita bisa, tapi jangan fokus dengan hal yang ngga guna (apa lagi fokus sama orang yang salah *ehh). Kalau ada yang nanya "Aku sih bisanya apa ya kak?", cukup tanyakan pada diri, motivasimu apa. Motivasi sedikit banyak bisa jadi fondasi buat bisa, percayalah, (percayalah sama Tuhan). Minimalnya lagi, punya mimpi. Mimpi itu gratis, kalo yang gratis aja ngga punya, lalu punyanya apa dong? It's okay, kalau punyanya yang ngga gratisan hehe. Entah ini kata siapa, kurang lebih begini "orang yang paling miskin bukanlah orang yang tidak memiliki harta, melainkan orang yang tidak punya mimpi", semoga kita bukan termasuk orang miskin itu ya :)

Menyoal topik yang aku ambil, soal "mandiri", aku sebenernya sedih (ini beneran sedih). Alasan aku sedih adalah saat diri ini masih menjadi tanggungan. Cukup sederhana mimpiku, membuat orang tua tersenyum bahagia. Ngga perlu lagi capek, ngga perlu lagi memikirkan banyak hal, ngga perlu mengkhawatirkan something, dan bla bla bla. Cukup duduk manis, fokus ibadah, sambil dengerin kisah bahagia satu sama lain (indahnya hidup ini).

So, lekaslah menjadi mandiri! Pesan itu juga dengan sangat spesial ditujukan pada diri ini. Saat kulihat keriput wajahnya, rambutnya yang kian memutih, cukuplah menjadi alasanku untuk.........

Alhamdulillah masih bisa kutemukan tarikan kedua sudut bibirnya, kuharap sampai nanti tak akan pernah hilang. Dan dapat semakin sering bisa kulihat :)

Hayo apa aku, kamu, kita sudah bisa mandiri? Mandiri itu punya artian yang luas. Tulisan ini aku tulis dengan kadar kebaperan yang lumayan. Semoga kita semua bisa mandiri ya, jangan bikin repot, kalau bisa dilakuian sendiri kenapa engga.

Salam dariku dengan senyuman terbaik sebagai seorang gadis yang ingin mandiri (Asek).
See ya!


Ykt, 21 Juli 2017
11:10 PM


PictSource: shutterstock.com

Tuesday, June 20, 2017

Hai Masa Lalu

Tuesday, June 20, 2017
Entah niatan apa yang menggerakanku untuk menulis ini. Jika kau baca judulnya, barangkali akan terbersit prasangka kalau aku masih terpaut dengan masa lalu. Jawabannya iya, tapi ijinkan aku menulis lebih panjang agar terlihat jelas benar adanya dan terlihat jelas seutuhnya.

Gambar terkait

Hai masa lalu.
Aku hanya ingin menyapa. Apa kabarnya kau disana? Apa kau baik-baik saja? Ku harap kau baik-baik saja dengan segala yang ada padamu. Dan perlu kau tahu aku baik-baik saja di sini, bahkan lebih baik saat terakhir kali kau ada.

Hai masa lalu.
Sudah waktu yang lama aku tak melihatmu dalam setiap hembus nafasku. Apa kau sudah berdebu? Apa kau masih seperti yang dulu? Itu bukan masalah, selagi kau masih terus berlaga.

Hai masa lalu.
Aku ingin berterima kasih. Terima kasih atas pelajaran yang telah kau berikan. Mengajarkanku atas banyak hal dan menjadi salah satu proses atas adanya diriku di masa kini. Aku di masa kini sedang mempersiapkan masa depan dan menggapai mimpi. Terima kasih atas rentetan pelajaran itu. Aku tak akan melupakannya, tapi tak juga mengingatnya berlama-lama. Hanya sesekali saja sebagai pendewasaan tentang aku harus bagaimana di masa depan. (Bukankah mengambil hikmah itu lebih baik dari pada tidak sama sekali?).

Hai masa lalu.
Aku pernah sedih, rapuh, kacau seperti yang lainnya. Bahkan aku pernah jatuh sejatuh-jatuhnya saat Dia tak mengijinkanku menggenggam asa itu. Itu juga bukan masalah, aku telah mengambil hikmah sedapatnya. Semua kisah itu sudah aku simpan dalam kotak kecil di celah nadiku. Sesekali mungkin aku buka, tapi tidak perlu lama-lama. Hanya untuk mengingatkanku saja, sejauh mana dulu aku mencapai masa kini.

Aku tak menyalahkan masa lalu, bukankah aku ada di masa kini karena hal-hal yang terjadi di masa lalu? Aku hanya berusaha berjuang untuk lebih tangguh dan mempersiapkan kisah hebat di masa depan.

Hai masa lalu.
Aku sekarang telah bahagia dan sedang merancang sebuah kisah di masa depan. Aku fokuskan diriku dengan beberapa hal yang aku sukai. Aku telah menemukan passion-ku. Besok atau lusa, aku semogakan masa depanku bisa lebih indah dan mengindahkan orang lain. Entah dengan siapa aku akan menuntaskan kisah hidup di dunia. 

Selamat jalan di penghujung kisah masa lalu. Aku pun sedang merajut kisah sampai penghujung kisahku sendiri, menata diri, memperbaiki diri, mendewasakan diri, dan dapat berakhir dengan khusnul khotimah. Akhir itulah yang benar-benar selalu kusemogakan. Bismillah.

Hai masa lalu.
Salam dariku, aku dari masa kini, dan aku masa lalu dari masa depanku.

Yogyakarta, 20 Juni 2017
07:05 AM

Pict source: agusleader.com

Thursday, April 20, 2017

Jangan Sentuh Hatinya

Thursday, April 20, 2017
Hasil gambar untuk diamond hati

Kamu tahu apa yang membuat hati perempuan tergerak? Jangan kau tanyakan pada angin yang sering kau minta untuk menyampaikan salam padanya. Tak perlu juga kau cari tahu apa isi hati perempuan. Karena aku akan sedikit menuntun jemariku untuk menuliskan tentang itu. Bukan bermaksud menelanjangi isi hati, barangkali ini akan menjadi hal baru untuk dilirik sebentar saja.

Hati perempuan itu halus, lembut, seperti kapas. Sungguh merugi seorang yang berani menyentuh hatinya tapi pada akhirnya hanya akan menitipkan luka lara. Meskipun hati perempuan mudah memaafkan, tapi ia tak mudah memudarkan ingatan tentang apa yang telah singgah di pedalaman hatinya (Fuadi, 2015). Meski tak mudah, akan ada pelabuhan baru untuk memulai berlayar bersama, itu sebuah keniscayaan.

Hati dan jiwa perempuan itu lembut, maka jangan kau maki dengan kata yang menyakitkan. Cukup diamkan dan utarakan dengan santun. Jangan kau tanyakan pada langit, kenapa ia bisa menerima apa saja yang singgah. Karena langit terlalu agung, meskipun kita tak pernah mendengar bisik angkuhnya. Kita tahu karena melihat.

Kadang, hati dan jiwa perempuan pun mudah pecah. Kita tak bisa melihatnya, karena hatinya tersimpan dalam. Dalam hal ini, aku beri kutipan dari Ali bi Abi Thalib "Sungguh wanita mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, namun tak sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat". Jika sudah terpaut dengan hatinya, jangan lah patahkan. Jika tak bisa, maka tinggalkanlah.
Jangan sentuh hatinya.....

Meskipun mudah pecah, di lain waktu hati perempuan bisa lebih kokoh dari pada besi yang mudah karatan. Karena tak jarang ada besi yang terus mempertahankan ronanya sampai 40 tahun, pun akan menjadi rapuh dan berkarat. Lain dengan hati perempuan. Dari kutipan Ali bin Abi Thalib, hati perempuan sungguh kokoh menyembunyikan perasaannya hingga terus beranak pinak selama 40 tahun.

Cukup sudah kutuliskan sampai di sini. Tulisan singkat dan ringan. Ditulis dalam keadaan sadar dengan prespektif penulis sendiri.


Yogyakarta, 19 April 2017
12:26 AM

Pict source: Marieclaire.co.id

Sunday, April 16, 2017

Anak Bawang

Sunday, April 16, 2017
Hasil gambar untuk hafalan quran

Bajunya putih, semua bersih, rapih, tanpa ada keraguan untuk melangkahkan kaki menuju kedamaian Ilahi. Iya, mereka adalah anak Permata (Pemberdayaan Rumah Tahfidz). Sebelum kujumpai mereka, awalnya aku curiga pada diriku sendiri, apa aku bisa menyesuaikan. Aku masih 'anak bawang', kabar kalau mau ada halaqah sugra (pertemuan siswa tahfidz) pun mendadak. Tapi akhirnya aku turut serta dalam rangkaian acara tersebut. 

Rasa khawatir mungkin ada, karena aku memang anak baru di sini (newbie). Tapi menjadi pembelajar tak perlu malu, yang penting semangat dan niat. Usiaku mungkin tak lagi remaja, aku sudah sampai pada kepala dua. Bahkan soal ini teman-teman sebaya sudah ada yang sering bahas tentng nikah :D. Wait, kita ngga fokus ke hal itu dulu ya. Sebelum nikah sudah pasti banyak sekali yang harus dipersiapkan, salah satunya memperdalam ilmu sebelum menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Bukan bermaksud ibu-able atau semacamnya, hanya saling mengingatkan saja demi peradaban yang lebih baik.

Sebelum melebar kemana-mana, aku ingin mengutarakan hariku sore ini pada semburat mega yang sudah tak lagi tampak. Ini pengalaman baru, sekaligus dapat suntikan motivasi untuk mncitai lebih pada Alquran. "Hati kita harus terisi dengan Alquran", begitu kata salah satu nasihat dari pemateri. Kelak seorang pengahfal Alquran pun akan mengadiahkan mahkota yang sinarnya mengalahkan sinar matahari kepada kedua orang tua, begitu juga kata pemateri yang lain. Apa lagi keutamaan bagi yang mengamalkannya?

Halaqah Sugra hari ini tak lama, dimulai dari setelah ashar sampai sebelum maghrib. Pada acara inti, semua siswa tahfidz membaca Alquran secara bersamaan kemudian dilanjutkan hafalan secara bersambung-sambung (sambung ayat). You know lah, anak bawang ini belum sampai punya banyak hafalan. Jadi aku mengikuti saja semampunya, dan kalau memang ngga hafal boleh sambil membaca.

Ternyata waktu begitu cepat belalu, jangan mau disibukkan dengan hal yang kurang berfaedah (pesan untuk diri sendiri juga). Untuk itu aku sampaikan satu hal lagi pesan dari pemateri, "jangan kita bahagia cuma karena kenikamatan duniawi saja. Alangkah senangnya orang yang bahagia dengan hal yang terpaut dan diridhai Allah". Artinya, sungguh membahagiakan orang bahagia yang bagaianya juga membahagikan-Nya (semoga paham maksudnya hehe). Misalkan kita bahagia jika mampu menghafal Alquran lebih banyak atau mempunyai amalan andalan lainnya.

Kini anak bawang pun menyadari, banyak hal yang harus dibenahi lagi. Sekian untuk hari ini, semoga ada hikmahnya. Aamiin.

Yogyakarta, 16 April 2017
07:04 PM

Pict Source: www.ummi-online.com

Saturday, April 15, 2017

Menunduk

Saturday, April 15, 2017
Hasil gambar untuk menundukkan pandangan bagi wanita

Kenapa harus menunduk? Tatap saja matanya! Tatap dengan tajam! Apa keberanianmu telah terpasung? Apa kamu merasa lemah? Tidak, bukan karena itu...

Kamu tahu, beberapa menit yang lalu saya menjumpai suatu hal. Soal topik ini sebenarnya sudah saya niatkan untuk menuliskannya. Tapi baru kali ini saya ada kesempatan dan barangkali mendapat inspirasi baru untuk menambah value tulisan ini. Semoga.

Akhir-akhir ini saya semakin berfikir jauh ke depan. Bukan soal life plan yang matang atau beberapa hal dalam jangka waktu ini, tapi lebih dari itu. Lebih dari sekadar memikirkan suatu hal, kemudian tercapai dan sudah. Hal ini juga berkaitan dengan perencanaan. Sematang-matangnya kita merencanakan sesuatu tapi jika kita tidak diberikan waktu untuk sampai pada titik perencanaan itu di masa mendatang, semua tak akan tercapai sempurna. Sebelum waktu kita terhenti, sebelum utusan-Nya memanggil kita untuk kembali. Lebih bijaknya memanfaatkan waktu sebisanya agar tak akan jadi kesia-siaan pada penghujung kisah anak Adam. 

Bukan bermaksud membubuhkan segelintir pesimisme, hanya saja perlu diingat kembali apa tujuan awal. Jujur saja saya merencanakan beberapa hal di waktu mendatang, dan sudah pasti kebanyakan orang pun melakukan demikian. Tapi bersamaan dengan itu saya cenderung berfikir, apa saya akan diberi waktu lebih lama, apa di masa yang akan datang saya masih bisa berdiri tegak seperti ini, apa saya diberi kesempatan lebih, apa saya..... Selanjutnya, kisah setiap anak Adam akan berakhir kapan, kita semua tak akan pernah tahu. Oleh karena itu, saya mulai menyadari bahwa besok saya masih ada atau sudah tidak ada itu adalah sebuah keniscayaan. Tinggal dipersiapkan saja bekal untuk kisah setelahnya. Titik ini pun yang menyadarkan saya to try my best untuk kesempatan yang masih ada. Karena keniscayaan juga jika waktu akan terhenti di saat yang tak terduga, bahkan ketika ketercapaian yang selama ini diagungkan belum sepenuhnya digenggam.

Kamu tahu? Ternyata saya terlalu takut. Menunduk membuat diri ini lebih nyaman, saya merasa kecil pada saat itu, merasa belum apa-apa, dan tak ada yang tersisa untuk disombongkan. Begitu juga ketika melihat seorang perempuan sebayaku sewaktu shalat Maghrib tadi. Dia menunduk, saya duduk di shaf ke dua tepat di sebelahnya. Dia menolehku sesaat dan tersenyum tipis sembari melanjutkan apa yang dia kerjakan sebelumnya. Entahlah sepertinya sedang berdzikir atau yang lainnya, dia tetap khusyuk. Meskipun suasana di dalam masjid dekat kos sedikit ramai, beberapa kali menjumpai dia menyeka pipinya. Saat itu sedang jeda antara adzan dan iqomah, jadi ada sedikit waktu untuk duduk menunggu iqomah dan mulai shalat Maghrib berjamaah. Saya masih saja mengamati, seperti ada sisi kehidupan yang membuatnya terus memohon pada-Nya. Entah apa pun itu, kami memiliki kesamaan. Menunduk menciptakan nuansa baru untuk terus sadar diri.

Selesai shalat berjamaah, kembali mendapat motivasi untuk fastabiqul khoirot. Sebelah saya ada yang sedang murojaah (mengulang hafalan Alquran). Kapan lagi dapat suasana seperti ini (maaf ya norak, saya masih seorang pembelajar), sebenarnya enggan untuk beranjak lebih awal. Tapi keburu akan dilanjut kegiatan PPM. Jadi saya pun pulang...

Menunduk bukan karena malu, karena pun menjaga pandangan itu perlu. Bukan karena keberanian ini mulai terpasung atau rasa ingin tahumu akan dunia mulai pudar. Baiknya silakan saja pilah apa-apa yang perlu dipandang tajam dan mana yang hanya boleh ditatap barang satu atau dua detik saja. Saya kembali teringat beberapa tahun yang lalu ketika mengunjungi salah satu pondok pesantren di Kediri. Disana semua santun, terjaga, perempuan dan laki-laki sangat dijaga pergaulannya. Sebagai anak SMA pada saat itu (maaf saya bukan anak pondokan atau pun aliyah), saya merasa terkesan melihat pengatur lalu lintas di pondok. Ini bukan lalu lintas di jalan raya yang mengatur kendaraan, tapi disini yang diatur adalah manusia. Jadi sistemnya seperti lampu merah di perempatan jalan, jalur laki-laki dan perempuan terpisah bagaikan dua arah jalan yang berbeda. Mereka sama sekali tidak berdesakan seperti yang kita tahu kalau pergi ke mall, semua orang berdesakan. Di tempat itu berbeda, MasyaAllah. Jangankan menatap dan saling melirik, berjumpa saja mereka di jalan yang berlainan. Pandangan yang terjaga.

Dengan menunduk saya merasa....

Yogyakarta, 15 April 2017
08:47 PM


Pict source: https://id.pinterest.com/pin/323414816974620765/